Listening to Where’d You Go (feat. Holly Brook & Jonah Matranga) by Fort Minor

I miss you so 😀

Listening to Where’d You Go (feat. Holly Brook & Jonah Matranga) by Fort Minor

Preview it on Path

Iklan

Radwanska, lagi-lagi …

Radwanska

Agnieszka ‘Aga’ Radwanska …

Petenis yang begitu labil. Terkadang dia bisa mencurahkan seluruh tenaga, hingga tampak bisa dengan mudah menjadi juara. Tapi akhirnya di pertandingan berikutnya seperti kehabisan energi dan dapat takluk dengan mudah. Berkali-kali Kutu menaruh harapan padanya, dan berkali-kali pula Kutu kecewa.

Di kejuaraan-kejuaraan kecil ia begitu dominan. Tapi di kejuaraan besar seperti Grand Slam, entah mengapa mentalnya begitu rendah, seperti tak ada semangat. Terakhir di Australian Open 2014, mentok lagi di semifinal. Tapi mau bagaimana lagi, hanya bisa ambil positifnya kalau prestasi ini lebih baik dari tahun lalu. Semoga bisa bertahan di posisi 5 dunia untuk waktu yang lama.

ditulis setelah kekalahan dari Dominika Cibulkova 6-1 6-2

Date A Girl … Who?

Date a girl who travel,
Hope she will accompany you to explore this beautiful world …

Date a girl who grab your hand while you’re walking,
Hope she will hold your heart as long as she can …

Date a girl who has a passion in doing her job,
Hope she will love you passionately …

Date a girl who take care of animal,
Hope she will remind you to take care ’bout others …

Date a girl who would walk from Kemang to Barito without any hesitation,
Hope she will not hesitate to follow you through the path of life …

Date a girl who can do all of those things,
And your life will never be same again 🙂

#ThisPostIsNotACode

[REVIEW] The Cuckoo’s Calling

The Cuckoo's Calling

Sebelum membahas lebih jauh tentang isi buku ini, kisah peluncuran buku ini saja sudah merupakan kisah tersendiri. The Cuckoo’s Calling masuk ke meja penerbit dengan nama pengarang Robert Galbraith. Kecurigaan muncul karena tulisan itu begitu menarik, tampak sedikit timpang dengan status yang dikirimkan penulis sebagai seorang penulis pemula dari kalangan militer. Di kemudian hari, ada sebuah informasi yang cukup mencengangkan. Ternyata, pengarang kisah misteri ini adalah seorang pengarang kawakan yang terkenal dengan kisah fantasi yang menggemparkan dunia, Harry Potter. Yup, Mr. Robert Galbraith is Mrs. Harry (uups …) maksudnya Mrs. JK. Rowling.

Buku ini diawali dengan jatuhnya seorang model, Lula Landry (yang tumbuh di keluarga kulit putih padahal kulitnya sendiri gelap) dari balkon apartemennya, dan langsung tewas ketika tubuhnya menghantam tanah. Tak puas dengan hasil penyelidikan polisi akan kejadian tersebut, sang kakak tiri, John Bristow memutuskan untuk memanfaatkan jasa seorang detektif swasta, Cormoran Strike.

Strike sendiri (jujur, penamaan dengan salah satu kata kerja dalam bahasa inggris ini begitu membingungkan, terutama jika anda membaca versi bahasa Inggrisnya), adalah seorang veteran perang dengan kehidupan yang … cukup menyedihkan. Pengalaman sebagai tentara meninggalkan cacat di kakinya, kisah cintanya kandas walau ia telah berjuang begitu keras, ditambah kondisi keuangannya carut marut sampai ia harus terbelit tagihan dan menginap di ruang kantornya tiap malam.

Masuk ke dalam kehidupan Strike adalah seorang perempuan pecinta petualangan, Robin Ellacott (25 tahun). Di awal cerita, Galbraith (atau kita langsung saja menyebut pengarangnya dengan sebutan JKR / JK Rowling??) memasukkan cerita tentang kehidupan pribadi Robin yang baru saja dilamar oleh pacarnya, Matthew, di bawah patung Eros di Piccadilly Circus.

The Cuckoo's Calling
Robin adalah seorang pegawai Temporary Solutions, sebuah perusahaan yang menyediakan pegawai paruh waktu untuk mengisi kekosongan sebuah posisi. Dan kali ini, Robin harus bekerja untuk Cormoran Strike.

Ketika akhirnya Robin dan Strike bertemu, JKR berhasil membuat sebuah kesan kalau di antara mereka berdua akan terjadi ‘sesuatu’ di sisa cerita buku ini. Padahal mereka berdua punya kisah asmara masing-masing, yang juga diceritakan dengan detail. JKR seolah ingin memasukkan kisah asmara dewasa ke dalam kisah misteri ini agar pembaca tidak cepat bosan.

Selebihnya, buku ini mengajak kita untuk berdiri di belakang Strike dan mengamati keadaan sekeliling, sambil menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi di balik kasus ini. Berlawanan dengan Harry Potter, di sini JKR menggambarkan setting waktu dan tempat dengan begitu realistis. Lokasi cerita tetap di London, di mana JKR biasa tinggal, tapi tak ada lagi cerita ratusan burung-burung hantu yang mengerumuni sebuah rumah tanpa menimbulkan kecurigaan para tetangga.

Demi memecahkan misteri ini, Strike hanya bergantung pada pengakuan para saksi yang ironisnya tidak bisa begitu dipercaya. Penyelidikan dimulai dengan tetangga korban, supir, penjaga pintu, hingga penyanyi rap yang ‘kebetulan’ menginap di flat yang sama. Untuk itu, Strike juga dibantu Robin yang ternyata cukup punya minat dan bakat untuk menjadi mata-mata pencari informasi penting. Hanya ada sedikit tambahan dari rekan-rekannya di kepolisian, yang ‘keukeuh’ meyakini kasus jatuhnya Lula Landry (Cuckoo) sebagai sebuah kasus bunuh diri.

Semuanya dikemas dengan gaya bercerita yang mengalir dan detail. Tidak ada kejutan-kejutan khusus di tiap chapter, hanya disisipi oleh sedikit alur maju mundur demi menjelaskan konteks cerita. Secara umum, buku ini sangat menarik untuk dibaca dan misterinya tak mudah terpecahkan. Buku keduanya (bila ada), pasti akan lebih dinanti 🙂

Cuckoo’s Calling dan Sepakbola

Dalam buku ini ada bagian di mana para tokoh menonton pertandingan sepakbola, di antaranya North London Derby antara Arsenal dan Spurs, serta pertandingan Chelsea melawan West Bromwich Albion. Dan karena itu, saya beranggapan kalau Cormoran (atau mungkin JKR juga), adalah seorang Gunners.

Cuckoo’s Calling dan Internet

Banyak kesempatan di mana Strike dan Robin mencari bahan-bahan penyelidikan lewat Internet. Ini menunjukkan pengaruh Internet yang sudah begitu masif dalam pandangan pengarang. Robin dengan lihai menelusuri Google untuk mengetahui siapa klien baru bosnya. Sedangkan Strike mencari tahu latar belakang narasumbernya dengan melihat akun pribadi mereka di Facebook.

Apa yang HARUS dan JANGAN dibeli di Indocomtech 2013

Indocomtech 2013Hari ini Kutu kebetulan ada waktu senggang, dan kebetulan waktu senggang itu bertepatan dengan pembukaan pameran komputer tahunan, Indocomtech 2013 di JCC. Maka izinkanlah Kutu ngoceh-ngoceh dikit soal apa yang Kutu lihat di pameran ini (boleh kan yaa …)

Ketika masuk, suasananya gak jauh beda dengan pameran-pameran sebelumnya, cuma susunan stand-nya aja yang sedikit berubah. Brand-brand besar macam Toshiba, Lenovo, HP dan Samsung masih ada. Toko-toko online seperti Lazada, Erafone, dan lain-lain masih ada. Jangan lupa toko-toko kecil yang biasa jualan di glodok dan musholla juga masih ada. Yang paling penting, loket tiket juga masih ada, yang artinya masuk Indocomtech masih bayar, belum bisa gratis 😀

Sebelum berangkat Kutu mikir-mikir apa yang perlu (inget, PER-LU, bukan PE-NGEN … karena pasti Kutu pengen semua, hii) Kutu beli di sana. Akhirnya Kutu memutuskan untuk cari-cari harddisk eksternal di sana, berhubung Kutu lagi suka nonton film, dan pengen nyolong film-film punya temen juga, makanya butuh itu. Eh, pas berangkat ada temen yang nitip keyboard protector … hmm, kayaknya Kutu pengen itu juga. (Tuh kan jadi pengen … 😡 )

Baca lebih lanjut

#NgupiCantik – Another Story

Segelas Kopi

Segelas Kopi

Beberapa kali coba merencanakan #NgupiCantik, selalu saja gagal. Tapi tanpa diduga, hanya dengan 1-2 kali mengirim pesan, #NgupiCantik akhirnya bisa terlaksana di hari yang sama. Aneh memang … tapi memang biasanya juga begitu 😀

Rekan Kutu untuk #NgupiCantik kali ini masih sama dengan yang sebelumnya, chiechie alias chiekebvo alias @kebvokecil. Cukup lama tak bertemu, ternyata sudah banyak cerita yang tersimpan dan menanti untuk dikeluarkan. Namun sekalipun ada kisah-kisah yang baru, tetap saja cerita-cerita masa lalu selalu menarik untuk dibahas kembali, hehee …

Lokasi #NgupiCantik masih sama dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya, Seven Eleven Radio Dalam. Juga ditemani hidangan yang sama, segelas kopi hangat buat Kutu, segelas slurpee untuk chiechie, dan sebungkus snack. Kami memang sangat mencintai konsistensi … (bahasa lain dari malas pindah ke tempat yang lebih jauh). Jangan harap hidangan yang tadi Kutu sebutin itu masih bertahan ketika kami berpisah, karena setiap ngobrol, pasti selesainya bakal lama banget.

Baca lebih lanjut

Sebuah Pesan dari The Interpreter

The Interpreter

The Interpreter

Bagi yang belum pernah menonton film The Interpreter, Kutu bahas dikit yah ceritanya. Alkisah, film yang rilis tahun 2005 ini menceritakan tentang sebuah negara fiktif yang bernama Matobo yang terus dilanda konflik. Seorang penerjemah di markas besar PBB yang bernama Silvia Broome, tiba-tiba terjebak di antara konflik tersebut, hingga ia dikejar-kejar pembunuh.

Kutu sendiri awalnya tertarik dengan judulnya, The Interpreter, sebuah profesi yang begitu menarik, terutama buat penerjemah amatir kayak Kutu gini, hee. Kedua, bintang utama wanitanya itu Nicole Kidman, keliatan anggun banget apalagi pas pake kacamata (uwoooooo …). Tapi tetep sih, gak bisa ngalahin Natalie Portman, eh 😀

Adegan menarik terjadi di akhir cerita ketika Silvia menggugah keprihatinan sang presiden Matobo akan hal keji yang telah dilakukannya. Silvia memberikan buku yang dikarang sang presiden sendiri ketika masih muda, dan menyuruhnya membaca bagian pembukaan.

Tanpa disangka, pembukaan buku tersebut berisi satu paragraf yang benar-benar inspiratif, terkait hati manusia (kata-kata asli dari film itu adalah yang Kutu beri garis bawah):

The gunfire around us makes it hard to hear.

Dunia ini emang udah gila. Senjata dan kekerasan tersebar di mana-mana. Orang berlomba-lomba mengucapkan kebohongan demi menyelamatkan posisi dan meraih keuntungan. Bahkan, hingga media massa pun kayak beradu untuk menyiarkan berita yang bohong atau gak penting (gunfire!).

Baca lebih lanjut