Category Archives: Kutu bicara Buku

Alien Itu Memilihku, Sebuah Review

Alien Itu MemilihkuEwing Sarcoma, sebuah jenis kanker tulang yang membuat para dokter sampai enggan untuk membicarakannya karena begitu kecilnya kemungkinan untuk hidup bila kita sudah terkena kanker jenis tersebut. Bisa bertahan dari kanker tersebut untuk waktu yang lama saja sudah merupakan keajaiban, apalagi bila akhirnya ada yang benar-benar sembuh dari penyakit tersebut, percayalah kalau Tuhan sedang menunjukkan karuniaNya.

Hal itulah yang coba diceritakan Feby Indirani dalam buku terbarunya, “Alien Itu Memilihku”. Di dalam buku tersebut, Feby coba menceritakan tentang kisah seorang penderita kanker jenis Ewing Sarcoma yang bernama Indah Melati Setiawan. Indah bukanlah seorang selebritis atau tokoh terkenal, ia hanya seorang biasa yang akhirnya bisa melepaskan diri dari belenggu seorang Alien yang berwujud kanker. Feby menyebut kanker yang diterima Indah sebagai seorang Alien bukannya tanpa sebab. Sifat Kanker yang hinggap di sebuah inang dan akhirnya tumbuh dengan menyedot sumber-sumber kehidupan dari inangnya tersebut, sangatlah mirip dengan cara hidup Alien.

“Mereka bertujuan untuk merusak tubuh. Ya, Kanker memang adalah alien.” (Hal. 78)

Kenyataan kalau seorang Indah Melati Setiawan harus mengidap kanker jenis Ewing Sarcoma sendiri, awalnya sulit untuk diterima. Ewing Sarcoma biasanya mendera anak-anak berusia 10 sampai 20 tahun yang berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan Indah, ketika terjangkit kanker, adalah seorang perempuan yang berumur 30 tahunan. Ia sedang berada di usia yang tepat untuk menaiki anak tangga menuju puncak kesuksesan saat kanker tersebut merebut segalanya dan memaksanya untuk berbaring di ranjang pesakitan dalam jangka waktu yang lama.

“Hidupku tidak lagi bisa disebut membosankan. Mengerikan, kini lebih tepat.” (Hal. 76)

Semua berawal di tahun 2009 ketika Indah baru saja selesai berolahraga dan merasakan rasa sakit di paha kirinya. Berbagai cara ia coba untuk menghilangkannya, mulai dari menggunakan obat penghilang rasa sakit, berobat ke dokter, sampai mengunjungi beberapa shinsei (pengobatan alternatif), namun semuanya tidak menunjukkan perbaikan. Paha Indah pun makin membesar, dan akhirnya ia langsung dibawa ke sebuah rumah sakit di Singapura. Ia pun divonis menderita kanker tulang ganas jenis Ewing Sarcoma dan kakinya terancam untuk diamputasi.

“Boleh jadi sel-sel tubuhku kini memilih mengkhianatiku. Namun jauh sebelum itu, cinta telah lebih dulu melakukannya.” (Hal. 53)

Dalam buku ini, Feby menceritakan bagaimana perasaan Indah tentang perbedaan agama, perbedaan ras, hingga bagaimana Indah sangat menyesal ketika menolak cinta seseorang yang sebenarnya begitu ia sayang. Keseluruhan proses tersebut-lah yang membentuk Indah, hingga akhirnya ia bisa menjadi pribadi yang kuat, dan berhasil melewati ujian berat ini.

“Tumor di kaki anda sangat besar, salah satu yang terbesar yang pernah saya tangani.” (Hal. 120)

Pada akhir 2010, kondisi Indah semakin parah hingga dokter pun memutuskan untuk melakukan operasi pengangkatan kanker yang bersarang di paha kiri Indah. Operasi tersebut berjalan dengan lancar, namun itu bukanlah akhir dari perjuangan Indah. Setelah operasi tersebut, ia harus menjalani Kemoterapi, sebuah proses penghancuran sisa-sisa sel kanker dengan obat yang sangat keras. Begitu kerasnya obat tersebut, sampai-sampai si pasien juga akan merasakan sakit yang luar biasa. Kemoterapi sendiri merupakan sebuah proses yang panjang dan memakan waktu lama, dan karenanya Indah hampir saja menyerah. Beruntung, Indah masih mempunyai semangat yang besar untuk tetap hidup, serta keluarga yang begitu menyayanginya. Ia pun berhasil menjalani seluruh rangkaian Kemoterapi dengan hasil yang menggembirakan.

Membuat sebuah memoar bukanlah sesuatu yang mudah, karena si penulis harus bisa menggali cerita tersebut sedalam mungkin hingga menemukan sesuatu yang menarik untuk diceritakan. Dan Feby Indirani berhasil melakukannya dengan baik dalam buku “Alien Itu Memilihku” ini. Di dalamnya juga ditampilkan beberapa ilustrasi yang bisa membantu pembaca untuk mengikuti jalan cerita.

Kisah di dalam buku ini sejalan dengan buku-buku lain yang juga bercerita soal penderita kanker seperti The Fault in Our Stars karangan John Green. Semuanya menceritakan bagaimana perjuangan para penderita kanker untuk melawan serangan Alien yang hinggap di tubuh mereka. Mereka semua punya kisah yang unik, alami, dan bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk bisa menjalani hidup dengan penuh semangat, tak peduli cobaan apapun yang menghadang kita.

Feby Indirani (Penulis) bersama Indah Melati Setiawan (Narasumber)

Feby Indirani (Penulis) bersama Indah Melati Setiawan (Narasumber)

Locke dan Demosthenes

Cerita ini berawal dari perkenalan Kutu dengan Ender Wiggins, seorang anak-anak yang menjadi tokoh utama di film Ender’s Game. Yup, film … Kutu mengenal Ender pertama kali lewat film. Berasa sedikit gagal sebagai kutu buku karena sebenarnya film tersebut adalah adaptasi dari buku dengan judul yang sama, karangan Orson Scott Card. Dan di versi filmnya, tokoh Ender benar-benar ditonjolkan.

Dan seperti biasa, apa yang ada di buku sedikit berbeda dengan apa yang kita lihat di film. Karena film tersebut akhirnya Kutu bela-belain baca bukunya, dan baru tahu kalau ada karakter yang lebih menarik dibanding seorang Ender Wiggins, yaitu Demosthenes dan Locke. Dua tokoh itu tak lain adalah nama samaran dari kakak-kakak Ender sendiri di dunia maya, Peter Wiggins adalah Locke dan Valentine Wiggins adalah Demosthenes.

Berawal dari ide brilian Peter dalam rangka mewujudkan mimpinya menguasai dunia. Berkat kemampuannya mempengaruhi orang, Peter berhasil merayu Valentine yang mempunyai kemampuan hebat dalam menulis, untuk membuat artikel-artikel kontroversial. Mereka memilih nama Demosthenes sebagai nama samaran bagi Valentine, diambil dari nama seorang orator Yunani Kuno. Dengan tulisan-tulisannya, Demosthenes berusaha membangkitkan ketegangan politik antar negara di dunia, dan ia sukses besar. Peter sendiri memilih nama Locke untuk menyebarkan tulisan-tulisannya. Berbeda dengan Demosthenes yang frontal, Locke terkesan lebih nasionalis dan cinta damai. Dan dua persona itu benar-benar merubah kondisi dunia, di dalam buku Ender’s Game.

Menurut Kutu, yang suka menulis, konsep Orson Scott Card terkait Demosthenes dan Locke itu sangat menarik. Membuat sebuah persona di dunia maya, membuat isu, kemudian merubah dunia. Dengan begitu, kita bisa menyebarkan sebuah pemikiran tanpa harus ada orang yang menyerang pribadi nyata kita. Dan kemungkinan, Mr. Card juga melakukan itu, di luar cerita karangannya. Tapi, entah karena sudah begitu kesal atau hal-hal lainnya, Mr. Card juga terbiasa untuk meluapkan pemikiran-pemikiran kontroversialnya dengan nama dirinya sendiri.

Sedikit aneh sebenarnya, di mana ia membuat konsep akun anonim di buku karangannya, dengan semua kekurangan dan kelebihannya, tapi ia malah menunjukkan hal yang sebaliknya di dunia nyata. Tulisan-tulisan Mr. Card yang paling banyak disorot orang adalah soal penolakan terhadap pernikahan sesama jenis. Dan hal itu sendiri sudah membuat sedikit gejolak, hingga sampai membuat beberapa orang menolak membaca bukunya. Padahal, dia bisa menggunakan konsep akun anonim yang ia ciptakan dalam dunia fiksi, dan membuat pendapatnya jadi lebih banyak didengar orang, sekaligus menyelamatkan citra diri dan karya-karyanya. Ini murni soal konsep penyebaran pendapat lho, bukan artinya Kutu menyetujui atau menolak pendapat Mr. Card soal gay-marriage.

Kalau boleh nambahin protes sama Mr. Card, pengen numpahin uneg-uneg soal karakter Ender yang cengeng, tapi tiba-tiba kuat, bener-bener membingungkan. Sampai saat ini, konsep paling oke soal anak-anak dengan mental yang kuat, adalah karakter Wade Watts di Ready Player One.

Viva Parzival !!

[REVIEW] The Cuckoo’s Calling

The Cuckoo's Calling

Sebelum membahas lebih jauh tentang isi buku ini, kisah peluncuran buku ini saja sudah merupakan kisah tersendiri. The Cuckoo’s Calling masuk ke meja penerbit dengan nama pengarang Robert Galbraith. Kecurigaan muncul karena tulisan itu begitu menarik, tampak sedikit timpang dengan status yang dikirimkan penulis sebagai seorang penulis pemula dari kalangan militer. Di kemudian hari, ada sebuah informasi yang cukup mencengangkan. Ternyata, pengarang kisah misteri ini adalah seorang pengarang kawakan yang terkenal dengan kisah fantasi yang menggemparkan dunia, Harry Potter. Yup, Mr. Robert Galbraith is Mrs. Harry (uups …) maksudnya Mrs. JK. Rowling.

Buku ini diawali dengan jatuhnya seorang model, Lula Landry (yang tumbuh di keluarga kulit putih padahal kulitnya sendiri gelap) dari balkon apartemennya, dan langsung tewas ketika tubuhnya menghantam tanah. Tak puas dengan hasil penyelidikan polisi akan kejadian tersebut, sang kakak tiri, John Bristow memutuskan untuk memanfaatkan jasa seorang detektif swasta, Cormoran Strike.

Strike sendiri (jujur, penamaan dengan salah satu kata kerja dalam bahasa inggris ini begitu membingungkan, terutama jika anda membaca versi bahasa Inggrisnya), adalah seorang veteran perang dengan kehidupan yang … cukup menyedihkan. Pengalaman sebagai tentara meninggalkan cacat di kakinya, kisah cintanya kandas walau ia telah berjuang begitu keras, ditambah kondisi keuangannya carut marut sampai ia harus terbelit tagihan dan menginap di ruang kantornya tiap malam.

Masuk ke dalam kehidupan Strike adalah seorang perempuan pecinta petualangan, Robin Ellacott (25 tahun). Di awal cerita, Galbraith (atau kita langsung saja menyebut pengarangnya dengan sebutan JKR / JK Rowling??) memasukkan cerita tentang kehidupan pribadi Robin yang baru saja dilamar oleh pacarnya, Matthew, di bawah patung Eros di Piccadilly Circus.

The Cuckoo's Calling
Robin adalah seorang pegawai Temporary Solutions, sebuah perusahaan yang menyediakan pegawai paruh waktu untuk mengisi kekosongan sebuah posisi. Dan kali ini, Robin harus bekerja untuk Cormoran Strike.

Ketika akhirnya Robin dan Strike bertemu, JKR berhasil membuat sebuah kesan kalau di antara mereka berdua akan terjadi ‘sesuatu’ di sisa cerita buku ini. Padahal mereka berdua punya kisah asmara masing-masing, yang juga diceritakan dengan detail. JKR seolah ingin memasukkan kisah asmara dewasa ke dalam kisah misteri ini agar pembaca tidak cepat bosan.

Selebihnya, buku ini mengajak kita untuk berdiri di belakang Strike dan mengamati keadaan sekeliling, sambil menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi di balik kasus ini. Berlawanan dengan Harry Potter, di sini JKR menggambarkan setting waktu dan tempat dengan begitu realistis. Lokasi cerita tetap di London, di mana JKR biasa tinggal, tapi tak ada lagi cerita ratusan burung-burung hantu yang mengerumuni sebuah rumah tanpa menimbulkan kecurigaan para tetangga.

Demi memecahkan misteri ini, Strike hanya bergantung pada pengakuan para saksi yang ironisnya tidak bisa begitu dipercaya. Penyelidikan dimulai dengan tetangga korban, supir, penjaga pintu, hingga penyanyi rap yang ‘kebetulan’ menginap di flat yang sama. Untuk itu, Strike juga dibantu Robin yang ternyata cukup punya minat dan bakat untuk menjadi mata-mata pencari informasi penting. Hanya ada sedikit tambahan dari rekan-rekannya di kepolisian, yang ‘keukeuh’ meyakini kasus jatuhnya Lula Landry (Cuckoo) sebagai sebuah kasus bunuh diri.

Semuanya dikemas dengan gaya bercerita yang mengalir dan detail. Tidak ada kejutan-kejutan khusus di tiap chapter, hanya disisipi oleh sedikit alur maju mundur demi menjelaskan konteks cerita. Secara umum, buku ini sangat menarik untuk dibaca dan misterinya tak mudah terpecahkan. Buku keduanya (bila ada), pasti akan lebih dinanti 🙂

Cuckoo’s Calling dan Sepakbola

Dalam buku ini ada bagian di mana para tokoh menonton pertandingan sepakbola, di antaranya North London Derby antara Arsenal dan Spurs, serta pertandingan Chelsea melawan West Bromwich Albion. Dan karena itu, saya beranggapan kalau Cormoran (atau mungkin JKR juga), adalah seorang Gunners.

Cuckoo’s Calling dan Internet

Banyak kesempatan di mana Strike dan Robin mencari bahan-bahan penyelidikan lewat Internet. Ini menunjukkan pengaruh Internet yang sudah begitu masif dalam pandangan pengarang. Robin dengan lihai menelusuri Google untuk mengetahui siapa klien baru bosnya. Sedangkan Strike mencari tahu latar belakang narasumbernya dengan melihat akun pribadi mereka di Facebook.

Di Bawah Naungan Kubah

Under The Dome

Under The Dome

Mungkin ada beberapa pembaca yang langsung menebak-nebak (dari judul di atas) kalau Kutu akan membahas sebuah buku, anda BENAR. Tapi kalau kalian mengira Kutu akan membahas buku karya Haji Abdul Malik yang mempunyai judul yang tak jauh beda, maka anda SALAH.

Kutu ingin ngoceh-ngoceh dikit (boleh kan yah) soal karya sang maestro novel Mystery dan Science Fiction terkenal, Stephen King. Judulnya Under The Dome … Dari judulnya aja udah kebayang yah ceritanya bakal gmana. Sebuah kota kecil di Maine, Amerika Serikat yang bernama Chester’s Mill tiba-tiba terkurung oleh kubah raksasa yang tidak bisa ditembus, bahkan oleh rudal militer sekalipun.

Gambaran besarnya, warga yang terjebak di dalam kubah  (mereka menyebutnya The Dome) seperti kumpulan ikan yang berada di dalam akuarium, hanya bisa berputar-putar ke sana ke mari tanpa tujuan yang jelas. Nah, sayangnya manusia bukan ikan yang bisa terus berenang dengan tenang, ada ego dan kepentingan-kepentingan beberapa individu yang ingin diutamakan, dari situlah konflik timbul. Seperti biasa, manusia cenderung untuk membuat masalah (lagi), sekalipun sudah mempunyai banyak masalah 😀

Di dalam buku ini banyak sekali tokoh yang muncul, sepertinya Stephen King ingin menulis nama setiap penghuni Chester’s Mill yang banyak sekali itu dalam buku ini. Ada Dale ‘Barbie’ Barbara, seorang mantan perwira militer yang terfitnah hingga akhirnya bermasalah dengan beberapa penduduk Chester’s Mill. Julia Shumway, anak seorang jurnalis yang akhirnya meneruskan profesi orang tuanya secara indie. Junior Rennie, pemuda dengan perilaku yang ‘bermasalah’ hingga akhirnya (atau mungkin memang ini sebabnya) ia terkena Kanker Otak. Dan lain-lain …

Dari sekian banyak aspek yang disinggung secara tersirat dalam buku ini, ada beberapa hal yang Kutu akan terus ingat :

Baca lebih lanjut

TB Leksika Kalibata City for Dummies

 

Goodreads Indonesia @ TB Leksika Kalibata City

Goodreads Indonesia @ TB Leksika Kalibata City

Hari ini rombongan Goodreads Indonesia (GRI) menyambangi toko buku Leksika di Kalibata City. Bagi sebagian besar rombongan, ini kunjungan kami yang kali pertama karena cabang ini baru resmi dibuka 17 Desember 2011 lalu. Walaupun demikian, sudah sejak akhir tahun lalu terendus oleh kami bahwa Leksika Kalibata City membagikan satu buku gratis setiap tengah hari. Maka hanya dengan menuliskan data diri dan menunjukkan KTP, setiap anggota GRI yang berkunjung siang tadi mendapatkan buku The Shallows karya Nicholas Carr yang menjadi buku gratis pada kesempatan hari ini.

Terletak di lantai UG Kalibata City, Jakarta Selatan, toko buku Leksika bagaikan oase para pecinta buku yang sedang beredar di pusat perbelanjaan sekaligus hunian tersebut. Walaupun tidak terlalu besar, Leksika Kalibata City menjanjikan suasana belanja yang nyaman. Bahkan, ada rak buku unik berbentuk seperti percabangan batang pohon yang membuat kami tergiur ingin membawanya pulang. Sayang memang, rombongan GRI menemukan keganjilan berupa tata letak kategori buku-buku yang dipamerkan belum ideal. Hal lain yang diharapkan akan segera dipenuhi adalah belum adanya buku-buku dari beberapa penerbit seperti Ufuk, Matahati, dan Gramedia.

Tim GRI disambut dengan ramah oleh Pak Riyo selaku perwakilan Leksika. Tak bosan-bosan Pak Riyo menemani kami berfoto-foto dengan berbagai buku yang ada. Sebagian anggota rombongan GRI yang berprofesi sebagai penerjemah atau penyunting pun menandatangani buku-buku proyeknya yang tersedia di tempat. Seusai menguras kadar narsisme masing-masing di antara kami, Pak Riyo mengajak kami duduk-duduk di foodcourt sambil membicarakan kemungkinan kerja sama antara GRI dengan Leksika Kalibata City. Jadi, siap-siap menjadikan toko buku ini sebagai salah satu tongkrongan GRI ya.

7 Januari 2012

Melody Violine

Koordinator Klub Buku Offline Goodreads Indonesia 2012

Alex Cross is Back !!

Cross Fire

Cross Fire

Bagi para penggemar novel, nama James Patterson (JP) bukanlah nama yang asing. Apalagi buat para penggila genre Misteri dan Thriller, gaya menulis JP yang cepat dengan pergantian setting dan sudut pandang di tiap pergantian bab benar-benar tak ada tandingan. Seri Alex Cross adalah yang terbaik dari semuanya, dan di Seri ke-17 ini, JP lagi-lagi membuat kejutan yang membuat kita tercengang.

Buku ini baru saja diterbitkan kemarin, tanggal 15 November 2010 oleh Little, Brown and Company. Berbentuk Hardcover dan tebal 384 halaman, anda bisa mendapatkannya di Amazon dengan harga $14.96. Mudah-mudahan bisa cepat tersedia di toko-toko buku impor di Indonesia juga.

JP mengawali cerita dengan kisah romantis antara Alex Cross dengan Brianna Stone (Bree) yang akan menikah. Namun di tengah-tengah suasana yang menyenangkan itu, tiba-tiba terjadi pembunuhan terhadap 2 orang koruptor Washington DC; Victor Vinton, seorang anggota Konggres, dan Craig Pilkey, seorang bankir. Rumitnya, pembunuhan itu dilakukan oleh sniper dari jarak yang sangat jauh. Karena itulah Cross yang diperintahkan untuk menangani kasus ini begitu kesulitan mencari saksi, dan ia memperkirakan bahwa penjahat ini adalah orang yang profesional.

Di saat-saat mencekam seperti itu, Alex Cross pun menerima telepon dari musuh bebuyutannya, Kyle Craig, Sang Mastermind itu telah kembali. Isi kepala Alex Cross pun dipenuhi dengan pikiran tentang pembunuhan, pernikahan, Kyle, dan juga Max Siegel, rekannya sesama detektif yang tak pernah berhenti berseteru dengannya. Menarik untuk mengikuti pergulatan perasaan dalam diri Cross itu dan bagaimana ia bisa menuntaskan kasus tersebut pada akhirnya.

Pokoknya novel terbaru JP ini bener-bener keren dehh. Alurnya yang cepat membuat kita tak akan bosan membaca, tapi tetap tertarik untuk mengikuti lanjutan ceritanya. Tongkrongin Blog Kutu terus yah, buat perkembangan novel-novel terbaru lainnya 🙂

NP : Ada bocoran dikit neh dari yg dah Kutu baca klo Kyle Craig, Sang Mastermind itu datang tidak dengan identitas aslinya. Ia mengubah wajahnya dengan operasi plastik, menyerupai seseorang yang dekat dengan Cross agar bisa membalaskan dendamnya, hayoo tebak dia nyamar jadi siapa?? 😀

The Three Musketeers – Alexandre Dumas

The Three Musketeers

The Three Musketeers

Pertama kali Kutu denger istilah “Musketeers” adalah waktu kutu nonton film kartun Tom n Jerry, ceritanya si Jerry dan adiknya yang bandel itu pake pakaian tentara Prancis jaman baheula n musti berhadapan dengan Tom yang jahat. Lucu yah, padahal novel ini adalah salah satu novel terbaik dunia lho, tapi koq yah tahunya malah dari kartun anak kecil 🙂

Kedua kali Kutu mendengar “The Three Musketeers” adalah dari film “Slumdog Millionaire”, di mana sebelum mendapatkan hadiah utama, pemeran utama di film itu harus menjawab pertanyaan : “Selain Athos dan Porthos, siapakah satu lagi yang termasuk The Three Musketeers?” Untunglah pemeran utama itu menjawab dengan tepat, sehingga cerita berakhir dengan happy ending.

Barulah setelah itu Kutu mencari-cari info dan membaca bukunya. Kutu dapat bukunya dari stand Times sewaktu Indonesia Book Fair kemarin. Buku setebal 564 halaman itu dijual seharga hanya 24 ribu rupiah, murah kan? Dalam Bahasa Inggris lho, jarang2 kan ada buku impor semurah itu, hee.

The Three Musketeers adalah cerita tentang petualangan empat orang pemuda di tengah-tengah pergolakan politik di Perancis di abad pertengahan yang dikarang oleh Alexandre Dumas. Empat orang itu adalah D’Artagnan, Athos, Porthos, dan Aramis. Judulnya Tiga Musketeer, tapi koq tokoh utamanya ada 4?? Hee, jangan bingung dulu, izinkan Kutu bercerita sedikit yah. BTW, Musketeer itu apa sih? hee, Musketeer adalah sejenis tentara infantri (mungkin Pakde Cholik bisa menjelaskan lebih jauh tentang ini ^^) di Perancis jaman dulu. Mereka disebut begitu karena mereka suka memakai Musket, sejenis senjata laras panjang.

Baca lebih lanjut