Masa Kampanye : Saat Indonesia Begitu Kotor

Judul di atas dibuat dengan begitu hati-hati, sehingga terdengar sedikit lebih halus dibandingkan dengan apa yang sebenarnya Kutu maksud. Indonesia (khususnya di Jakarta, tempat tinggal Kutu), akan menjadi begitu jorok, kotor, gembel, dan … silahkan sebut kata-kata buruk lainnya, setiap diadakannya event yang bernama Pemilu.

Selain maksud dan tujuan awalnya untuk memilih Presiden dan Wakil Rakyat, Pemilu benar-benar memberikan dampak buruk buat penduduk Indonesia. Habisnya dana negara sebanyak ratusan triliun rupiah (entah untuk apa saja), penuhnya rumah sakit jiwa oleh caleg-caleg gagal, dan ditambah lagi dengan penuhnya ruang publik dengan bendera, sticker, poster, spanduk, dan ornamen-ornamen kampanye lainnya yang begitu merusak pemandangan.

Anehnya, semua orang seperti tutup mata dengan hal ini. Memang sih, kalau hanya muncul dari perseorangan, misalnya ada 1 orang yang keliling mencabut ornamen-ornamen kampanye tersebut, malah akan menjadi masalah. Syukur-syukur orang itu gak sampai meninggal karena dihajar sampai babak belur oleh simpatisan partai atau caleg yang ornamennya dia cabut.
Memang harus ada pihak yang berwenang, yang bertanggung jawab membersihkan ruang publik dari barang-barang tak berguna tersebut. Termasuk juga pimpinan daerah yang ‘katanya’ getol menyerukan ibukota yang lebih rapih dan bersih, ia juga tidak bertindak apa-apa. Entah karena dia sekarang juga nyalon sebagai capres, atau memang ada alasan lain, kita tidak tahu.

Yang ada, adalah perapihan ornamen-ornamen kampanye tersebut ketika masa tenang. Para petugas diperintahkan untuk mencabut semua ornamen-ornamen tersebut hingga tak bersisa, entah bagaimana caranya. Kalian bisa bayangkan betapa kerasnya kerja mereka. Ini misi yang mustahil.

Menurut Kutu yang super sotoy, seharusnya ada peraturan yang mengatur tempat-tempat mana saja yang boleh dan tidak boleh dipasangi ornamen-ornamen kampanye, dan ornamen apa saja yang boleh dipasang. Kasar ngomong, itu stiker-stiker yang nempel di tiang listrik bisa-bisa nangkring aja terus di situ sampe beberapa periode presiden. Coba kalau tempelan itu ada di dinding istana negara atau rumah gubernur, apa mereka gak risih!

Kalau udah ada peraturan tersebut, para petugas bisa ‘nyicil’ mencabut-cabuti ornamen tersebut kapan pun mereka bisa, gak harus nunggu masa tenang. Karena yang namanya partai itu memang terlalu bebal dan ogah mencabuti ornamen-ornamen yang mereka pasang, termasuk partai-partai yang mengatas namakan agama (jujur, Kutu malu agama Kutu diaku aku sama partai-partai kayak begitu). Yah, kalian tahulah betapa tidak pedulinya institusi yang bernama partai itu sama rakyat.

Yah, semoga aja ada orang berwenang yang baca …

5 responses to “Masa Kampanye : Saat Indonesia Begitu Kotor

  1. Kampanye kan tidak harus pakai spanduk, kampanye kan bisa dengan membangun paving jalan, menambal jalan berlubang, mendirikan usaha mandiri, memberikan perlindungan hukum, dan lain sebagainya.

  2. Jangan bersedih ketika melakukan salah. Karena kesalahan kita banyak belajar karena kesalahan kita menjadi pintar.

  3. Sahabat adalah seseorang yg slalu ada disampingmu yg sabar mendengarkan keluh kesahmu dan bersedia menemanimu menjalani hidup

  4. The happiness will come when you are able to make other people happy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s