Penggemar Stand Up Comedy yang Tidak Menikmati Grand Final SUCI 5

Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) merupakan sebuah acara pencarian bakat yang diselenggarakan oleh Kompas TV, untuk mencari bakat-bakat Stand Up Comedy dalam negeri. Kontes ini sejak awal dimaksudkan untuk menjaga ‘obor’ Stand Up Comedy agar tetap berkobar di Indonesia, agar masyarakat Indonesia tetap sadar akan keberadaan dan bakat dari para komika, sebutan bagi performer dalam dunia Stand Up Comedy, di Indonesia. Dan dalam hal ini, SUCI sukses menjalankan misinya, hingga sekarang makin banyak masyarakat Indonesia yang mengenal Stand Up Comedy, terutama kalangan anak muda. Setelah 5 season penayangan SUCI, kita bisa melihat peningkatan jumlah komika, komunitas-komunitas komika, hingga makin banyaknya jumlah acara-acara Stand Up Comedy baik yang ditayangkan di televisi maupun yang tidak. Secara umum, dunia Stand Up Comedy harus banyak berterima kasih kepada SUCI.

Penulis sendiri adalah salah satu penggemar Stand Up Comedy, sejak masa-masa awal perkembangannya. Saya masih ingat ketika satu-satunya komika yang bisa saya tonton videonya hanyalah Pandji Pragiwaksono, yang itu pun direkam dengan peralatan seadanya, namun tetap saja saya putar berkali-kali karena begitu menarik. Adik saya sendiri pun merupakan salah satu komika dan pendiri komunitas Stand Up Comedy di Indonesia. Berbagai video Stand Up Comedy lengkap di dalam laptop saya, mulai dari rekaman show-show Stand Up Comedy di televisi lokal, hingga video komika terkenal di Inggris, Michael McIntyre. Bisa dibilang saya adalah salah satu fans berat Stand Up Comedy.

Karena itulah dalam artikel ini saya ingin mengungkapkan kegundahan saya terkait pelaksanaan acara Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) Season 5, terutama pada Grand Final yang berlangsung baru-baru ini. Hal ini ternyata juga dirasakan oleh banyak penggemar Stand Up Comedy lainnya, seperti yang saya lihat di berbagai social media.

Kegundahan pertama saya adalah soal mental para peserta yang sepertinya begitu tertekan dengan judul Grand Final. Rigen, Rahmed, dan Indra tampil tertekan, dan tidak bisa lepas seperti penampilan-penampilan mereka sebelumnya. Beberapa kali mereka gagal mengeksekusi bit-bit yang sebenarnya menarik. Kalau boleh dibilang, acara Grand Final ini merupakan salah satu penampilan mereka yang terburuk sepanjang SUCI. Para peserta tersebut seharusnya menganggap SUCI ini bukan sebagai kompetisi di mana mereka harus memperebutkan hadiah, namun anggaplah ini sebagai sebuah show, di mana mereka bisa bersenang-senang menampilkan bit-bit lucu yang mengundang tawa penonton.

Kegundahan saya yang lain adalah terkait skema kompetisi SUCI, terutama di Grand Final ini. Sejak episode-episode sebelumnya, SUCI berkali-kali memberlakukan aturan-aturan khusus terkait performance dari para komika. Contohnya, ada episode tertentu di mana para komika harus menampilkan Impersonate (menirukan gaya orang lain), Call Back (pengulangan punchline yang lucu dari bit sebelumnya), dan lain-lain. Sebenarnya, pemberlakuan aturan ini maksudnya baik, yaitu agar finalis SUCI punya kemampuan yang lengkap sebagai komika. Namun aturan ini juga menyimpan masalah, karena misalnya ada komika yang lucu dan memberikan penampilan yang maksimal namun ia lupa / sengaja tidak memenuhi aturan tersebut, pantaskah ia dieliminasi? Hal ini terjadi pada Dodit di SUCI 4 dan Dicky di SUCI 5, mereka tampil baik dan lucu namun mereka gagal memenuhi aturan yang diberikan, dan mereka diputuskan untuk dieliminasi dari kompetisi tersebut.

Aturan lain yang sering diberikan adalah para penampil harus bekerja sama dalam tim untuk menciptakan sebuah Sitcom (Situation Comedy). Sebagai sebuah sajian alternative comedy, hal ini terlihat menarik. Namun pantaskah seorang komika dinilai dari bakat mereka dalam Sitcom? Bukankah Stand Up Comedy adalah kompetisi Stand Up di mana alaminya setiap komika selalu tampil sendiri? Sayangnya Kompas TV seperti mengarahkan SUCI ini menjadi kompetisi lawak yang umum dengan berbagai aturan yang mereka buat. 

Hal ini memuncak di Grand Final, di mana semua finalis nge-bom (gagal lucu) ketika harus melakukan Sitcom. Di Grand Final tersebut bahkan ada 1 sesi di mana setiap finalis harus menampilkan 6 teknik Stand Up dalam waktu 7 menit. Hasilnya? Saya tidak bisa menikmati.

Coba kalian bayangkan dalam dunia Tenis, ada berbagai macam skill memukul bola seperti groundstroke, slice, lob, smash, dropshot, down the line, dan lain-lain. Setiap pemain tenis punya kelebihan dalam skill-skill tertentu, dan kelemahan di skill-skill lainnya. Lalu darimana performa mereka dilihat? Jelas dari beberapa kali mereka memenangkan kejuaraan, bukan dari seberapa lengkap skill yang mereka kuasai. Dalam dunia standup, mungkin hitungannya adalah seberapa keras tawa penonton. Memang ada beberapa bidang yang sering mengadu skill-skill khusus para pemainnya, seperti dunia basket yang sering mengadakan kompetisi slam dunk, 3-point, dan lain lain, itu pun hanya setahun sekali saat NBA All Star. Dan sejauh ini saya belum pernah melihat kompetisi basket di mana seorang pemain harus menunjukkan seluruh skill mulai dari layup, slamdunk, 3-points shoot, rebound, dan blocking dalam waktu 10 menit. Dewa sepakbola saat ini, Lionel Messi, bahkan tidak menguasai beberapa skill sepakbola seperti tackling dan kurang pandai dalam adu bola di udara.

Saya mengharapkan Kompas TV bisa menyadari hal ini, dan melakukan perubahan di SUCI berikunya. Mengapa? Karena kami butuh komika yang lucu, bukan komika yang taat aturan. Teknik-teknik Stand Up Comedy yang ditetapkan Kompas TV hanyalah alat bantu untuk membuat sebuah materi menjadi lucu. Penerapannya harus diserahkan kepada para komika, entah bagaimana caranya agar mereka tetap terlihat lucu dalam setiap penampilannya. Bahkan terkadang para penonton menyukai hal-hal absurd yang tidak bisa dijelaskan oleh teknik-teknik tersebut, dan hal itu lucu. Cukuplah teknik-teknik tersebut diperiksa ketika proses audisi, namun ketika show biarkan mereka ‘menggila’ sesuai dengan karakter mereka masing-masing.

Terakhir, kita harus mengingat semboyan SUCI yang selalu didengungkan di setiap episode, Let’s Make Laugh. Sejauh ini setahu saya belum berubah menjadi Let’s Follow Rule.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s