Post Match : Juventus vs Dortmund – Sang Juara Belum Panas

Juve Dortmund 1

26 Juli 2015, setelah sekian lama berlibur, bola sepak itu pun kembali bergulir di kaki-kaki para pemain Juventus dalam suatu pertandingan. Walaupun hanya sebuah pertandingan persahabatan, yang penting kita bisa kembali menyaksikan Gianluigi Buffon dkk menunjukkan permainan menarik mereka. Walau hasil akhirnya mungkin sedikit tidak sesuai harapan.

Adalah AFG Arena, stadion yang merupakan kandang dari klub FC St. Gallen, yang menjadi saksi pertandingan pertama Juventus musim ini. Stadion berkapasitas 20.000 penonton tersebut pun dipenuhi oleh para Juventini dan juga pendukung Borussia Dortmund, lawan Juventus di pertandingan persahabatan kali ini.

Line-Up Juventus vs Dortmund :

Juve Dortmund 6

Gianluigi Buffon
Patrice Evra
Leonardo Bonucci
Andrea Barzagli
Martin Caceres
Andres Tello
Claudio Marchisio
Paul Pogba
Paulo Dybala
Alvaro Morata
Mario Mandzukic

Di luar dugaan, Massimiliano Allegri, pelatih Juventus, tidak menggunakan formasi 3-5-2 yang merupakan pakem Juventus musim lalu. Ia lebih memilih menggunakan formasi 4-3-1-2 yang merupakan formasi andalannya saat melatih AC Milan dahulu. Allegri juga membuat kejutan dengan memasukkan Andres Tello untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Sami Khedira, yang harus absen karena cedera. Selain Khedira, Fernando Llorente dan Rubinho juga tidak bisa ambil bagian dalam pertandingan ini karena cedera.

Jalannya Pertandingan Babak Pertama

Ketika peluit kick-off babak pertama berbunyi, kedua tim langsung saling menyerang, walaupun Dortmund terlihat lebih menguasai jalannya pertandingan. Ini merupakan pertandingan persahabatan ke-6 bagi Dortmund di awal musim ini, wajar pemain mereka tampak lebih taktis dan fit. Mereka pun akan memulai musim ini lebih awal, karena mereka harus mengikuti kualifikasi Champions League.

Juve Dortmund

Pola penyerangan Juventus jelas sekali terlihat. Dybala di-plot sebagai playmaker, untuk mendukung Morata dan Mandzukic. Morata sendiri didorong untuk bergerak melebar, dan menyuplai bole ke Mandzukic. Namun pola ini tidak terlalu berkembang karena Dortmund terus menguasai bola. Mereka bahkan bisa membuat peluang emas lewat sepakan kaki Henrikh Mkhitaryan. Beruntung Buffon masih bisa menepis bola ke luar.

Pada menit ke-5, baru Juventus mendapatkan peluang setelah Morata membuat umpan dari sisi kanan pertahanan Dortmund ke tiang jauh. Caceres yang menunggu di sana langsung melakukan tendangan first time, sayang arahnya masih jauh ke atas gawang Dortmund. Caceres sendiri sepertinya menjadi titik lemah Juventus dalam pertandingan kali ini. Dirinya dan Tello yang dipercaya menjaga sisi kanan pertahanan Juve berkali-kali kebobolan oleh tusukan-tusukan Mkhitaryan. Beruntung gawang Juve dikawal dengan baik oleh Buffon, sehingga skor tetap kacamata 0-0.

Juve Dortmund 4

Sekitar menit ke-13, Dybala baru bisa mengeluarkan magisnya dengan memberikan umpan manis kepada Morata yang berhasil lolos sekalipun dikawal 2 pemain Dortmund. Sayang, setelah berada di kotak pinalti, Morata melakukan tendangan yang arahnya sangat melenceng di atas gawang Dortmund. Peluang itu merupakan salah satu dari sedikit peluang yang didapat oleh Juventus. Hal ini diakibatkan jarak pemain tengah dan pemain depan Juve yang terlalu jauh, sehingga aliran bola menjadi tidak lancar. Berkali-kali aliran bola harus berhenti karena intercept para pemain Dortmund di lapangan tengah.

Menit ke-28, Dybala lepas dari pengawalan bek-bek Dortmund dan terpaksa dijatuhkan di depan kotak pinalti Dortmund. Di sinilah kehadiran Pirlo dirindukan, karena selain dirinya dan Tevez, tidak ada lagi yang bisa dipercaya menendang tendangan bebas dengan baik. Kali ini, Dybala dipercaya untuk melakukan tendangan, walau akhirnya tendangan tersebut melayang jauh ke atas. Di menit ke 37, Dybala kembali mendapat tendangan bebas di jarak yang sama dengan tendangan bebas pertamanya. Kali ini, dia berhasil memberikan umpan yang baik kepada Mandzukic. Sayang sundulan mantan pemain Bayern Muenchen itu masih melayang di atas mistar gawang Dortmund. Pertandingan pun menjadi seru.

Juve Dortmund 7

Di sisi lain, Dortmund juga tidak mengendurkan serangan. Setelah tendangan Kevin Kampl dari sisi kanan masih mampu ditepis Buffon, mereka terus mengalirkan bola ke arah kiri, tempat Mkhitaryan berada. Kesabaran mereka berbuah manis di menit ke-40. Lewat sebuah serangan balik, bola pun meluncur ke kaki Mkhitaryan di sisi kiri, tempat Caceres dan Tello seharusnya berada. Kali ini, Mkhitaryan berhasil memberikan umpan mendatar yang manis kepada Pierre-Emerick Aubameyang yang telah menunggu di tengah. Ia pun meluncurkan tendangan keras ke arah kanan gawang Buffon. Penjaga gawang nomor 1 Italia tersebut pun tak bisa berbuat banyak dan terpaksa menyerah. 1-0 untuk Dortmund. Skor bertahan hingga babak pertama usai.

Jalannya Pertandingan babak Kedua

Pada babak kedua, Allegri memutuskan untuk mengubah formasi dan kembali ke pakem musim lalu 3-5-2, yang bisa berubah menjadi 5-3-2. Caceres digantikan oleh Lichtsteiner, Barzagli digantikan oleh Rugani, sedangkan Evra digantikan oleh Padoin. Tello pun digantikan oleh Sturaro, yang sebelumnya diramalkan akan menjadi starting line-up bila Khedira tidak bisa bermain. Akibat perubahan formasi, Dybala pun terpaksa ditarik keluar untuk memberikan tempat pada Chiellini di belakang. Baru jalan beberapa menit, Mandzukic diganti oleh Simone Zaza. Buffon pun digantikan oleh sang calon penerus, Neto Murara.

Juve Dortmund 5

Neto, yang merupakan mantan kiper Fiorentina, langsung memberikan impresi yang baik. Babak kedua baru berjalan beberapa menit, ia langsung melakukan penyelamatan. Hal ini terus berlangsung hingga akhir pertandingan, di mana pertahanan Juve berkali-kali jebol oleh penyerang Dortmund. Neto pun terpaksa berjibaku melakukan penyelamatan demi penyelamatan agar gawang Juve tetap aman. Dengan penampilan seperti ini, ia sepertinya bisa menjadi penerus yang baik untuk Gianluigi Buffon.

Petaka kembali terjadi di menit ke-63, di mana Dortmund kembali melakukan serangan balik cepat, kali ini lewat kaki Marco Reus. Reus terus menusuk pertahanan Juve. Ia bahkan berhasil menggocek Bonucci hingga terjatuh, untuk kemudian menaklukkan Neto dengan menendang bola ke tiang dekat. Skor berubah 2-0 untuk Dortmund.

Juve Dortmund 2

Setelah gol kedua tersebut, Dortmund mulai memasukkan pemain-pemain cadangannya. Hal ini juga diikuti oleh Allegri yang ingin mengistirahatkan semua pemain utamanya, dan memasukkan pemain-pemain pengganti. Alberto Cerri masuk menggantikan Marchisio, dan Giulio Parodi menggantikan Bonucci. Bahkan pemain yang didatangkan dari Boca Juniors, Guido Vadala, juga masuk menggantikan Paul Pogba. Sejak itu tempo permainan meningkat, dan pemain Juve tampak masih bisa mengimbangi. Sepertinya, dalam sesi latihan yang sudah berjalan, Allegri baru menitik beratkan pada pemulihan fisik, belum sampai pada implementasi taktik.

Sayangnya, hingga peluit panjang dibunyikan, tidak ada gol yang tercipta. Skor akhir 2-0 untuk Dortmund.

Konferensi Pers Allegri Selepas Pertandingan

Juve Dortmund 3

“Terlepas dari hasil akhirnya, pertandingan tadi merupakan latihan yang baik untuk kami. Yang terpenting adalah tidak ada pemain yang cedera menjelang Final Piala Super Italia di Shanghai. Saat ini persiapan kami masih terlalu dini, namun sudah ada beberapa poin plus yang bisa kami ambil. Kami sudah bisa mengalirkan bola dengan baik, namun kami tidak bida menciptakan peluang. Kami punya banyak pemain muda di lapangan dan pertandingan tadi merupakan latihan yang baik. Kini kami harus membumi dan kembali bekerja.”

Poin-Poin Penting yang Bisa Diambil dari Pertandingan Juventus vs Dortmund

  • Neto tampak sudah siap menggantikan Buffon, posisi Kiper berarti aman untuk beberapa musim ke depan.
  • Allegri masih penasaran dengan formasi 3-5-2. Semoga ia tidak mencobanya di pertandingan-pertandingan penting.
  • Dybala, Morata, dan Mandzukic sama-sama mempunyai skill yang baik, namun mereka harus meningkatkan kerja sama mereka apabila Allegri ‘ngotot’ ingin memasang 2 striker + 1 playmaker.
  • Dybala harus lebih sering-sering latihan Free Kick.
  • Caceres masih belum kembali ke performa tertinggi, Lichsteiner kembali tanpa saingan.

Sampai jumpa di pertandingan selanjutnya.

Penggemar Stand Up Comedy yang Tidak Menikmati Grand Final SUCI 5

Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) merupakan sebuah acara pencarian bakat yang diselenggarakan oleh Kompas TV, untuk mencari bakat-bakat Stand Up Comedy dalam negeri. Kontes ini sejak awal dimaksudkan untuk menjaga ‘obor’ Stand Up Comedy agar tetap berkobar di Indonesia, agar masyarakat Indonesia tetap sadar akan keberadaan dan bakat dari para komika, sebutan bagi performer dalam dunia Stand Up Comedy, di Indonesia. Dan dalam hal ini, SUCI sukses menjalankan misinya, hingga sekarang makin banyak masyarakat Indonesia yang mengenal Stand Up Comedy, terutama kalangan anak muda. Setelah 5 season penayangan SUCI, kita bisa melihat peningkatan jumlah komika, komunitas-komunitas komika, hingga makin banyaknya jumlah acara-acara Stand Up Comedy baik yang ditayangkan di televisi maupun yang tidak. Secara umum, dunia Stand Up Comedy harus banyak berterima kasih kepada SUCI.

Penulis sendiri adalah salah satu penggemar Stand Up Comedy, sejak masa-masa awal perkembangannya. Saya masih ingat ketika satu-satunya komika yang bisa saya tonton videonya hanyalah Pandji Pragiwaksono, yang itu pun direkam dengan peralatan seadanya, namun tetap saja saya putar berkali-kali karena begitu menarik. Adik saya sendiri pun merupakan salah satu komika dan pendiri komunitas Stand Up Comedy di Indonesia. Berbagai video Stand Up Comedy lengkap di dalam laptop saya, mulai dari rekaman show-show Stand Up Comedy di televisi lokal, hingga video komika terkenal di Inggris, Michael McIntyre. Bisa dibilang saya adalah salah satu fans berat Stand Up Comedy.

Karena itulah dalam artikel ini saya ingin mengungkapkan kegundahan saya terkait pelaksanaan acara Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) Season 5, terutama pada Grand Final yang berlangsung baru-baru ini. Hal ini ternyata juga dirasakan oleh banyak penggemar Stand Up Comedy lainnya, seperti yang saya lihat di berbagai social media.

Kegundahan pertama saya adalah soal mental para peserta yang sepertinya begitu tertekan dengan judul Grand Final. Rigen, Rahmed, dan Indra tampil tertekan, dan tidak bisa lepas seperti penampilan-penampilan mereka sebelumnya. Beberapa kali mereka gagal mengeksekusi bit-bit yang sebenarnya menarik. Kalau boleh dibilang, acara Grand Final ini merupakan salah satu penampilan mereka yang terburuk sepanjang SUCI. Para peserta tersebut seharusnya menganggap SUCI ini bukan sebagai kompetisi di mana mereka harus memperebutkan hadiah, namun anggaplah ini sebagai sebuah show, di mana mereka bisa bersenang-senang menampilkan bit-bit lucu yang mengundang tawa penonton.

Kegundahan saya yang lain adalah terkait skema kompetisi SUCI, terutama di Grand Final ini. Sejak episode-episode sebelumnya, SUCI berkali-kali memberlakukan aturan-aturan khusus terkait performance dari para komika. Contohnya, ada episode tertentu di mana para komika harus menampilkan Impersonate (menirukan gaya orang lain), Call Back (pengulangan punchline yang lucu dari bit sebelumnya), dan lain-lain. Sebenarnya, pemberlakuan aturan ini maksudnya baik, yaitu agar finalis SUCI punya kemampuan yang lengkap sebagai komika. Namun aturan ini juga menyimpan masalah, karena misalnya ada komika yang lucu dan memberikan penampilan yang maksimal namun ia lupa / sengaja tidak memenuhi aturan tersebut, pantaskah ia dieliminasi? Hal ini terjadi pada Dodit di SUCI 4 dan Dicky di SUCI 5, mereka tampil baik dan lucu namun mereka gagal memenuhi aturan yang diberikan, dan mereka diputuskan untuk dieliminasi dari kompetisi tersebut.

Aturan lain yang sering diberikan adalah para penampil harus bekerja sama dalam tim untuk menciptakan sebuah Sitcom (Situation Comedy). Sebagai sebuah sajian alternative comedy, hal ini terlihat menarik. Namun pantaskah seorang komika dinilai dari bakat mereka dalam Sitcom? Bukankah Stand Up Comedy adalah kompetisi Stand Up di mana alaminya setiap komika selalu tampil sendiri? Sayangnya Kompas TV seperti mengarahkan SUCI ini menjadi kompetisi lawak yang umum dengan berbagai aturan yang mereka buat. 

Hal ini memuncak di Grand Final, di mana semua finalis nge-bom (gagal lucu) ketika harus melakukan Sitcom. Di Grand Final tersebut bahkan ada 1 sesi di mana setiap finalis harus menampilkan 6 teknik Stand Up dalam waktu 7 menit. Hasilnya? Saya tidak bisa menikmati.

Coba kalian bayangkan dalam dunia Tenis, ada berbagai macam skill memukul bola seperti groundstroke, slice, lob, smash, dropshot, down the line, dan lain-lain. Setiap pemain tenis punya kelebihan dalam skill-skill tertentu, dan kelemahan di skill-skill lainnya. Lalu darimana performa mereka dilihat? Jelas dari beberapa kali mereka memenangkan kejuaraan, bukan dari seberapa lengkap skill yang mereka kuasai. Dalam dunia standup, mungkin hitungannya adalah seberapa keras tawa penonton. Memang ada beberapa bidang yang sering mengadu skill-skill khusus para pemainnya, seperti dunia basket yang sering mengadakan kompetisi slam dunk, 3-point, dan lain lain, itu pun hanya setahun sekali saat NBA All Star. Dan sejauh ini saya belum pernah melihat kompetisi basket di mana seorang pemain harus menunjukkan seluruh skill mulai dari layup, slamdunk, 3-points shoot, rebound, dan blocking dalam waktu 10 menit. Dewa sepakbola saat ini, Lionel Messi, bahkan tidak menguasai beberapa skill sepakbola seperti tackling dan kurang pandai dalam adu bola di udara.

Saya mengharapkan Kompas TV bisa menyadari hal ini, dan melakukan perubahan di SUCI berikunya. Mengapa? Karena kami butuh komika yang lucu, bukan komika yang taat aturan. Teknik-teknik Stand Up Comedy yang ditetapkan Kompas TV hanyalah alat bantu untuk membuat sebuah materi menjadi lucu. Penerapannya harus diserahkan kepada para komika, entah bagaimana caranya agar mereka tetap terlihat lucu dalam setiap penampilannya. Bahkan terkadang para penonton menyukai hal-hal absurd yang tidak bisa dijelaskan oleh teknik-teknik tersebut, dan hal itu lucu. Cukuplah teknik-teknik tersebut diperiksa ketika proses audisi, namun ketika show biarkan mereka ‘menggila’ sesuai dengan karakter mereka masing-masing.

Terakhir, kita harus mengingat semboyan SUCI yang selalu didengungkan di setiap episode, Let’s Make Laugh. Sejauh ini setahu saya belum berubah menjadi Let’s Follow Rule.

Alien Itu Memilihku, Sebuah Review

Alien Itu MemilihkuEwing Sarcoma, sebuah jenis kanker tulang yang membuat para dokter sampai enggan untuk membicarakannya karena begitu kecilnya kemungkinan untuk hidup bila kita sudah terkena kanker jenis tersebut. Bisa bertahan dari kanker tersebut untuk waktu yang lama saja sudah merupakan keajaiban, apalagi bila akhirnya ada yang benar-benar sembuh dari penyakit tersebut, percayalah kalau Tuhan sedang menunjukkan karuniaNya.

Hal itulah yang coba diceritakan Feby Indirani dalam buku terbarunya, “Alien Itu Memilihku”. Di dalam buku tersebut, Feby coba menceritakan tentang kisah seorang penderita kanker jenis Ewing Sarcoma yang bernama Indah Melati Setiawan. Indah bukanlah seorang selebritis atau tokoh terkenal, ia hanya seorang biasa yang akhirnya bisa melepaskan diri dari belenggu seorang Alien yang berwujud kanker. Feby menyebut kanker yang diterima Indah sebagai seorang Alien bukannya tanpa sebab. Sifat Kanker yang hinggap di sebuah inang dan akhirnya tumbuh dengan menyedot sumber-sumber kehidupan dari inangnya tersebut, sangatlah mirip dengan cara hidup Alien.

“Mereka bertujuan untuk merusak tubuh. Ya, Kanker memang adalah alien.” (Hal. 78)

Kenyataan kalau seorang Indah Melati Setiawan harus mengidap kanker jenis Ewing Sarcoma sendiri, awalnya sulit untuk diterima. Ewing Sarcoma biasanya mendera anak-anak berusia 10 sampai 20 tahun yang berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan Indah, ketika terjangkit kanker, adalah seorang perempuan yang berumur 30 tahunan. Ia sedang berada di usia yang tepat untuk menaiki anak tangga menuju puncak kesuksesan saat kanker tersebut merebut segalanya dan memaksanya untuk berbaring di ranjang pesakitan dalam jangka waktu yang lama.

“Hidupku tidak lagi bisa disebut membosankan. Mengerikan, kini lebih tepat.” (Hal. 76)

Semua berawal di tahun 2009 ketika Indah baru saja selesai berolahraga dan merasakan rasa sakit di paha kirinya. Berbagai cara ia coba untuk menghilangkannya, mulai dari menggunakan obat penghilang rasa sakit, berobat ke dokter, sampai mengunjungi beberapa shinsei (pengobatan alternatif), namun semuanya tidak menunjukkan perbaikan. Paha Indah pun makin membesar, dan akhirnya ia langsung dibawa ke sebuah rumah sakit di Singapura. Ia pun divonis menderita kanker tulang ganas jenis Ewing Sarcoma dan kakinya terancam untuk diamputasi.

“Boleh jadi sel-sel tubuhku kini memilih mengkhianatiku. Namun jauh sebelum itu, cinta telah lebih dulu melakukannya.” (Hal. 53)

Dalam buku ini, Feby menceritakan bagaimana perasaan Indah tentang perbedaan agama, perbedaan ras, hingga bagaimana Indah sangat menyesal ketika menolak cinta seseorang yang sebenarnya begitu ia sayang. Keseluruhan proses tersebut-lah yang membentuk Indah, hingga akhirnya ia bisa menjadi pribadi yang kuat, dan berhasil melewati ujian berat ini.

“Tumor di kaki anda sangat besar, salah satu yang terbesar yang pernah saya tangani.” (Hal. 120)

Pada akhir 2010, kondisi Indah semakin parah hingga dokter pun memutuskan untuk melakukan operasi pengangkatan kanker yang bersarang di paha kiri Indah. Operasi tersebut berjalan dengan lancar, namun itu bukanlah akhir dari perjuangan Indah. Setelah operasi tersebut, ia harus menjalani Kemoterapi, sebuah proses penghancuran sisa-sisa sel kanker dengan obat yang sangat keras. Begitu kerasnya obat tersebut, sampai-sampai si pasien juga akan merasakan sakit yang luar biasa. Kemoterapi sendiri merupakan sebuah proses yang panjang dan memakan waktu lama, dan karenanya Indah hampir saja menyerah. Beruntung, Indah masih mempunyai semangat yang besar untuk tetap hidup, serta keluarga yang begitu menyayanginya. Ia pun berhasil menjalani seluruh rangkaian Kemoterapi dengan hasil yang menggembirakan.

Membuat sebuah memoar bukanlah sesuatu yang mudah, karena si penulis harus bisa menggali cerita tersebut sedalam mungkin hingga menemukan sesuatu yang menarik untuk diceritakan. Dan Feby Indirani berhasil melakukannya dengan baik dalam buku “Alien Itu Memilihku” ini. Di dalamnya juga ditampilkan beberapa ilustrasi yang bisa membantu pembaca untuk mengikuti jalan cerita.

Kisah di dalam buku ini sejalan dengan buku-buku lain yang juga bercerita soal penderita kanker seperti The Fault in Our Stars karangan John Green. Semuanya menceritakan bagaimana perjuangan para penderita kanker untuk melawan serangan Alien yang hinggap di tubuh mereka. Mereka semua punya kisah yang unik, alami, dan bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk bisa menjalani hidup dengan penuh semangat, tak peduli cobaan apapun yang menghadang kita.

Feby Indirani (Penulis) bersama Indah Melati Setiawan (Narasumber)

Feby Indirani (Penulis) bersama Indah Melati Setiawan (Narasumber)

Belajar Dari Pembunuh Ade Sara

Postingan ini bisa ada akibat diskusi “yang tiba-tiba” serius dengan Nona Kutu di sebuah store Burger King yang begitu ramai di hari sabtu malam, tepat sebelum nonton film ‘Her’ yang sedikit aneh.

Entah kenapa selepas makan BBQ Beefacon, obrolan Kutu dan Nona Kutu nyambung ke kasus Ade Sara, remaja yang dibunuh oleh mantan pacarnya sendiri. Kami berkesimpulan kalau tidaklah pas kalau kita membenci si pelaku, tapi kita justru seharusnya kasihan dan belajar dari kejadian ini. Lho koq?

Mungkin banyak yang heran, karena setiap kasus pembunuhan sufah sepantasnya si pelaku mendapatkan kebencian yang teramat sangat dari pihak korban. Tapi bila kita ingin berpikir lebih luas, hal tersebut tidak akan mengembalikan nyawa si korban kembali kan? Apalagi kasus Ade Sara ini bida dibilang sedikit spesial, karena motif dan usia pelakunya yang masih muda.

Setiap orang pasti akan merasa begitu ‘down’ ketika dikecewakan oleh orang lain. Entah itu karena nilai di sekolah yang buruk, atau baru saja dimarahi orang tua karena bandel di rumah, dan termasuk juga kekecewaan ketika putus cinta. Baca lebih lanjut

Masa Kampanye : Saat Indonesia Begitu Kotor

Judul di atas dibuat dengan begitu hati-hati, sehingga terdengar sedikit lebih halus dibandingkan dengan apa yang sebenarnya Kutu maksud. Indonesia (khususnya di Jakarta, tempat tinggal Kutu), akan menjadi begitu jorok, kotor, gembel, dan … silahkan sebut kata-kata buruk lainnya, setiap diadakannya event yang bernama Pemilu.

Selain maksud dan tujuan awalnya untuk memilih Presiden dan Wakil Rakyat, Pemilu benar-benar memberikan dampak buruk buat penduduk Indonesia. Habisnya dana negara sebanyak ratusan triliun rupiah (entah untuk apa saja), penuhnya rumah sakit jiwa oleh caleg-caleg gagal, dan ditambah lagi dengan penuhnya ruang publik dengan bendera, sticker, poster, spanduk, dan ornamen-ornamen kampanye lainnya yang begitu merusak pemandangan.

Anehnya, semua orang seperti tutup mata dengan hal ini. Memang sih, kalau hanya muncul dari perseorangan, misalnya ada 1 orang yang keliling mencabut ornamen-ornamen kampanye tersebut, malah akan menjadi masalah. Syukur-syukur orang itu gak sampai meninggal karena dihajar sampai babak belur oleh simpatisan partai atau caleg yang ornamennya dia cabut. Baca lebih lanjut

Locke dan Demosthenes

Cerita ini berawal dari perkenalan Kutu dengan Ender Wiggins, seorang anak-anak yang menjadi tokoh utama di film Ender’s Game. Yup, film … Kutu mengenal Ender pertama kali lewat film. Berasa sedikit gagal sebagai kutu buku karena sebenarnya film tersebut adalah adaptasi dari buku dengan judul yang sama, karangan Orson Scott Card. Dan di versi filmnya, tokoh Ender benar-benar ditonjolkan.

Dan seperti biasa, apa yang ada di buku sedikit berbeda dengan apa yang kita lihat di film. Karena film tersebut akhirnya Kutu bela-belain baca bukunya, dan baru tahu kalau ada karakter yang lebih menarik dibanding seorang Ender Wiggins, yaitu Demosthenes dan Locke. Dua tokoh itu tak lain adalah nama samaran dari kakak-kakak Ender sendiri di dunia maya, Peter Wiggins adalah Locke dan Valentine Wiggins adalah Demosthenes.

Berawal dari ide brilian Peter dalam rangka mewujudkan mimpinya menguasai dunia. Berkat kemampuannya mempengaruhi orang, Peter berhasil merayu Valentine yang mempunyai kemampuan hebat dalam menulis, untuk membuat artikel-artikel kontroversial. Mereka memilih nama Demosthenes sebagai nama samaran bagi Valentine, diambil dari nama seorang orator Yunani Kuno. Dengan tulisan-tulisannya, Demosthenes berusaha membangkitkan ketegangan politik antar negara di dunia, dan ia sukses besar. Peter sendiri memilih nama Locke untuk menyebarkan tulisan-tulisannya. Berbeda dengan Demosthenes yang frontal, Locke terkesan lebih nasionalis dan cinta damai. Dan dua persona itu benar-benar merubah kondisi dunia, di dalam buku Ender’s Game.

Menurut Kutu, yang suka menulis, konsep Orson Scott Card terkait Demosthenes dan Locke itu sangat menarik. Membuat sebuah persona di dunia maya, membuat isu, kemudian merubah dunia. Dengan begitu, kita bisa menyebarkan sebuah pemikiran tanpa harus ada orang yang menyerang pribadi nyata kita. Dan kemungkinan, Mr. Card juga melakukan itu, di luar cerita karangannya. Tapi, entah karena sudah begitu kesal atau hal-hal lainnya, Mr. Card juga terbiasa untuk meluapkan pemikiran-pemikiran kontroversialnya dengan nama dirinya sendiri.

Sedikit aneh sebenarnya, di mana ia membuat konsep akun anonim di buku karangannya, dengan semua kekurangan dan kelebihannya, tapi ia malah menunjukkan hal yang sebaliknya di dunia nyata. Tulisan-tulisan Mr. Card yang paling banyak disorot orang adalah soal penolakan terhadap pernikahan sesama jenis. Dan hal itu sendiri sudah membuat sedikit gejolak, hingga sampai membuat beberapa orang menolak membaca bukunya. Padahal, dia bisa menggunakan konsep akun anonim yang ia ciptakan dalam dunia fiksi, dan membuat pendapatnya jadi lebih banyak didengar orang, sekaligus menyelamatkan citra diri dan karya-karyanya. Ini murni soal konsep penyebaran pendapat lho, bukan artinya Kutu menyetujui atau menolak pendapat Mr. Card soal gay-marriage.

Kalau boleh nambahin protes sama Mr. Card, pengen numpahin uneg-uneg soal karakter Ender yang cengeng, tapi tiba-tiba kuat, bener-bener membingungkan. Sampai saat ini, konsep paling oke soal anak-anak dengan mental yang kuat, adalah karakter Wade Watts di Ready Player One.

Viva Parzival !!

Listening to Where’d You Go (feat. Holly Brook & Jonah Matranga) by Fort Minor

I miss you so :D

Listening to Where’d You Go (feat. Holly Brook & Jonah Matranga) by Fort Minor

Preview it on Path