[REVIEW] The Cuckoo’s Calling

The Cuckoo's Calling

Sebelum membahas lebih jauh tentang isi buku ini, kisah peluncuran buku ini saja sudah merupakan kisah tersendiri. The Cuckoo’s Calling masuk ke meja penerbit dengan nama pengarang Robert Galbraith. Kecurigaan muncul karena tulisan itu begitu menarik, tampak sedikit timpang dengan status yang dikirimkan penulis sebagai seorang penulis pemula dari kalangan militer. Di kemudian hari, ada sebuah informasi yang cukup mencengangkan. Ternyata, pengarang kisah misteri ini adalah seorang pengarang kawakan yang terkenal dengan kisah fantasi yang menggemparkan dunia, Harry Potter. Yup, Mr. Robert Galbraith is Mrs. Harry (uups …) maksudnya Mrs. JK. Rowling.

Buku ini diawali dengan jatuhnya seorang model, Lula Landry (yang tumbuh di keluarga kulit putih padahal kulitnya sendiri gelap) dari balkon apartemennya, dan langsung tewas ketika tubuhnya menghantam tanah. Tak puas dengan hasil penyelidikan polisi akan kejadian tersebut, sang kakak tiri, John Bristow memutuskan untuk memanfaatkan jasa seorang detektif swasta, Cormoran Strike.

Strike sendiri (jujur, penamaan dengan salah satu kata kerja dalam bahasa inggris ini begitu membingungkan, terutama jika anda membaca versi bahasa Inggrisnya), adalah seorang veteran perang dengan kehidupan yang … cukup menyedihkan. Pengalaman sebagai tentara meninggalkan cacat di kakinya, kisah cintanya kandas walau ia telah berjuang begitu keras, ditambah kondisi keuangannya carut marut sampai ia harus terbelit tagihan dan menginap di ruang kantornya tiap malam.

Masuk ke dalam kehidupan Strike adalah seorang perempuan pecinta petualangan, Robin Ellacott (25 tahun). Di awal cerita, Galbraith (atau kita langsung saja menyebut pengarangnya dengan sebutan JKR / JK Rowling??) memasukkan cerita tentang kehidupan pribadi Robin yang baru saja dilamar oleh pacarnya, Matthew, di bawah patung Eros di Piccadilly Circus.

The Cuckoo's Calling
Robin adalah seorang pegawai Temporary Solutions, sebuah perusahaan yang menyediakan pegawai paruh waktu untuk mengisi kekosongan sebuah posisi. Dan kali ini, Robin harus bekerja untuk Cormoran Strike.

Ketika akhirnya Robin dan Strike bertemu, JKR berhasil membuat sebuah kesan kalau di antara mereka berdua akan terjadi ‘sesuatu’ di sisa cerita buku ini. Padahal mereka berdua punya kisah asmara masing-masing, yang juga diceritakan dengan detail. JKR seolah ingin memasukkan kisah asmara dewasa ke dalam kisah misteri ini agar pembaca tidak cepat bosan.

Selebihnya, buku ini mengajak kita untuk berdiri di belakang Strike dan mengamati keadaan sekeliling, sambil menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi di balik kasus ini. Berlawanan dengan Harry Potter, di sini JKR menggambarkan setting waktu dan tempat dengan begitu realistis. Lokasi cerita tetap di London, di mana JKR biasa tinggal, tapi tak ada lagi cerita ratusan burung-burung hantu yang mengerumuni sebuah rumah tanpa menimbulkan kecurigaan para tetangga.

Demi memecahkan misteri ini, Strike hanya bergantung pada pengakuan para saksi yang ironisnya tidak bisa begitu dipercaya. Penyelidikan dimulai dengan tetangga korban, supir, penjaga pintu, hingga penyanyi rap yang ‘kebetulan’ menginap di flat yang sama. Untuk itu, Strike juga dibantu Robin yang ternyata cukup punya minat dan bakat untuk menjadi mata-mata pencari informasi penting. Hanya ada sedikit tambahan dari rekan-rekannya di kepolisian, yang ‘keukeuh’ meyakini kasus jatuhnya Lula Landry (Cuckoo) sebagai sebuah kasus bunuh diri.

Semuanya dikemas dengan gaya bercerita yang mengalir dan detail. Tidak ada kejutan-kejutan khusus di tiap chapter, hanya disisipi oleh sedikit alur maju mundur demi menjelaskan konteks cerita. Secara umum, buku ini sangat menarik untuk dibaca dan misterinya tak mudah terpecahkan. Buku keduanya (bila ada), pasti akan lebih dinanti🙂

Cuckoo’s Calling dan Sepakbola

Dalam buku ini ada bagian di mana para tokoh menonton pertandingan sepakbola, di antaranya North London Derby antara Arsenal dan Spurs, serta pertandingan Chelsea melawan West Bromwich Albion. Dan karena itu, saya beranggapan kalau Cormoran (atau mungkin JKR juga), adalah seorang Gunners.

Cuckoo’s Calling dan Internet

Banyak kesempatan di mana Strike dan Robin mencari bahan-bahan penyelidikan lewat Internet. Ini menunjukkan pengaruh Internet yang sudah begitu masif dalam pandangan pengarang. Robin dengan lihai menelusuri Google untuk mengetahui siapa klien baru bosnya. Sedangkan Strike mencari tahu latar belakang narasumbernya dengan melihat akun pribadi mereka di Facebook.

One response to “[REVIEW] The Cuckoo’s Calling

  1. sangat menarik pak, makasih info nya kami tunggu update selanjutnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s