Membonceng motor alias nebeng alias ‘numpang sampe depan’ memang telah menjadi sesuatu yang membudaya di seluruh dunia. Sepengetahuan kutu, hampir semua orang pernah membonceng motor temannya atau orang lain, baik yang gratis maupun yang berbayar a.k.a ojeg. Mereka pun membonceng dengan berbagai macam alas an, baik yang bisa ditoleransi maupun yang terkesan seperti parasit. “Untuk mengurangi kepadatan lalu lintas dan mengurangi polusi,” inilah tujuan yang mungkin masih bisa ditoleransi, walaupun hampir semua orang yang mengatakan hal seperti ini dapat dipastikan … TIDAK IKHLAS. Hee … ada lagi alasan yang penuh kejujuran walau terkesan ‘memanfaatkan’ yaitu, “Biar cepet lah sampai tujuan, plus irit ongkos.” Huu, dia kira beli bensin pake daun singkong.
Di balik segala polemik di balik penggunaan kata membonceng dan tujuan dibaliknya, ada bermacam cara warga Jakarta pada khususnya dalam melakukan perboncengan, mari kita kupas satu persatu:
1. Membonceng Pacar
Biasanya dilakukan serileks mungkin. Tidak mengebut dan selalu berada di kiri jalan. Berusaha selambat mungkin sampai tujuan. Ngobrol selama mungkin dengan sang pujaan hati di belakang. Mata sedikit-sedikit ngadep ke belakang. Tangan tidak terus-terusan berada di stang kemudi, tapi … uupss, hayo !! mulai dehh itunya, huu … Semuanya mirip dengan pepatah jawa :
Alon-alon asal klaklon
Yoo nyetir sambil ngguyon
Anggep wae ora ono klakson ^^
Read the rest of this post »
Kutu Berbicara