Sejak ratusan tahun yang lalu, atau mungkin sejak budaya tulis-menulis muncul ke dunia, banyak petualang yang mendokumentasikan pengalaman-pengalaman mereka menjelajahi tempat-tempat baru ke dalam sebuah Catatan Perjalanan (Catper). Fenomana ini terus ada seiring perkembangan zaman, bahkan seperti menjadi tradisi bagi para penggemar hobi jalan-jalan untuk mengabadikan perjalanan mereka agar pengalaman tersebut bisa dinikmati oleh orang lain.
Memasuki dunia internet yang modern, Catper pun menjamur dalam bentuk artikel-artikel lepas di bemacam blog, milist, website, dan lain-lain. Baik catatan perjalanan untuk perjalanan (travelling) yang membutuhkan budget besar maupun yang seadanya (backpacker), semua tersedia. Sayangnya, semua Catper itu tersebar di berbagai tempat sehingga sulit untuk mendapatkan kesatuan menarik antar Catper-Catper tersebut.
Baru beberapa tahun terakhir ini, dunia buku Indonesia dikejutkan dengan genre Buku Travelling yang tiba-tiba ‘booming’. Tak bisa dipungkiri ini adalah efek domino dari keberhasilan buku pedoman travelling karangan pasangan dari Australia bertajuk ‘Lonely Planet’, yang begitu terkenal.
Diawali dengan kemunculan (setahu saya) The Naked Traveler karangan Trinity. Buku itu sebenarnya adalah kumpulan Catatan Perjalanan Trinity berkeliling Indonesia dan Dunia. Namun dia menuliskannya dengan bahasa yang polos dan mengundang gelak tawa sehingga mengundang banyak orang untuk membacanya. Dan akhirnya, selain menumbuhkan semangat para pembacanya untuk bertravelling, Trinity juga berhasil menumbuhkan semangat para travellers dan backpackers lain untuk mengumpulkan catatan-catatan perjalanan mereka dan menerbitkannya dalam bentuk buku.
Beberapa dari mereka memilih untuk membuat panduan instan untuk melakukan sebuah perjalanan seperti yang kita lihat dalam buku “Keliling Eropa dengan sekian juta rupiah” dan buku-buku semacam itu. Isi buku itu kebanyakan daftar tempat-tempat menginap, restoran, atau tempat-tempat yang layak dikunjungi di sana, dan bagaimana bisa mengunjungi semua tempat-tempat itu dengan budget terbatas.
Namun ada juga beberapa travellers yang berusaha mengemas pengalaman mereka dalam bentuk lain yang lebih menarik, namun tetap tidak kehilangan cita rasa sebagai sebuah catatan perjalanan. Mereka membuat buku mereka menjadi semacam Diary, yang tidak hanya menceritakan kisah-kisah menyenangkan, tapi juga cerita-cerita menyedihkan, mengesalkan, atau bahkan membahayakan selama perjalanan. Untuk kategori ini ada buku-buku seperti ‘Selimut Debu’ dan ‘Garis Batas’ yang menceritakan kisah Sang penulis, Agustinus Wibowo, di kawasan Asia Tengah dan Afghanistan, dan juga ‘Kedai 1001 Mimpi’ yang menceritakan kisah Valiant Budi di Saudi Arabia.
Apa yang menarik dari Buku Travelling? Perbedaannya. Makin berbeda pengalaman yang dialami para penulis buku tersebut dengan kehidupan sehari-hari, maka makin menarik buku itu untuk dibaca. Itulah yang menjadi jaminan kalau buku atau cerita Travelling akan tetap ada, karena dunia ini masih menyimpan keunikan-keunikan yang banyak sekali hingga tak terhitung lagi jumlahnya. Selain itu, Buku Travelling menyajikan keunikan tersebut dengan kepastian bahwa anda bisa melihat atau mengalami pengalaman persis atau mendekati yang mereka rasakan, karena mereka menceritakan fakta, bukan fiksi.
Dan akhirnya, seakan menjadi undangan terbuka bagi semua pembacanya,
“Ayo Jelajahi Dunia!”
-6.200000
106.883000