Segerombolan Kisah Ayam

1

Alkisah di suatu desa, ada segerombolan ayam milik seorang peternak yang sedang mengobrol di kandang mereka.

“Baik sekali ya Pak Peternak itu. Sejak kecil beliau merawat kita, memberi makan, memberi minum, bahkan sampai membersihkan kotoran-kotoran kita. Semua itu pasti karena beliau sangat sayang kepada kita, para ayam,” demikianlah inti pembicaraan mereka. Mereka terus melantunkan pujian kepada Pak Peternak.

Hari ke hari, kepercayaan dan kecintaan mereka kepada Pak Peternak semakin meningkat. Hingga suatu hari Pak Peternak menghampiri seekor ayam yang berada paling ujung, memelintir lehernya dan menyembelihnya. Ayam-ayam yang lain panik, mereka tidak menyangka Pak Peternak yang sedari dulu telah begitu baik kepada mereka, ternyata kini telah berubah 180 derajat menjadi pembunuh berdarah dingin. Mereka tidak mempersiapkan apa-apa untuk bersembunyi, apalagi melarikan diri. Hingga akhirnya satu persatu ayam tersebut mati disembelih oleh Pak Peternak untuk dijual dagingnya ke kota.

2

Pada suatu hari, seorang Kapten Kapal Laut berkata kepada temannya ketika bersantai di sebuah bar bahwa :

“Sepanjang sejarah saya mengomandoi kapal, tak pernah saya mengalami kecelakaan. Saya baru sekali mengalami kepanikan, namun saya tidak pernah melihat sebuah kapal tenggelam atau karam. Berada dalam sebuah situasi menegangkan yang berujung pada tenggelamnya kapal pun saya tak pernah.”

Kata-kata itu terucap dari bibirnya pada tahun 1907.

Beberapa tahun berlalu hingga bulan April tahun 1912, Sang Kapten dipercaya untuk mengomandoi salah satu kapal terbesar yang pernah dibuat pada masa itu. Rencananya, kapal itu akan berlayar dari Inggris menuju dataran Amerika. Naas, ketika melewati Samudera Atlantik, kapal besar itu menabrak sebuah gunung es. Sang Kapten yang belum pernah mengalami situasi darurat seperti itu pun panik karena merasa belum mempersiapkan apa-apa untuk menghadapi situasi seperti itu. Ia tidak mampu menguasai keadaan hingga kapal itu akhirnya tenggelam dan menewaskan banyak penumpangnya, dan kecelakaan itu pun diabadikan sebagai salah satu kecelakaan transportasi terhebat. Kapten Kapal yang sedang kita bicarakan adalah Edward John Smith, Kapten Kapal Titanic.

Edward John Smith

Edward John Smith

3

Dalam “Berlin Diary : The Journal of a Foreign Correspondent” karya William Shirer yang mulai ditulis pada tahun 1934, diungkapkan bahwa orang-orang Perancis (waktu itu) menganggap Hitler hanya sebuah fenomena yang tak akan berlangsung lama. Karena itu mereka tidak mempersiapkan apa-apa untuk menghadapinya. Berbeda sekali dengan buku-buku sejarah saat ini yang menganggap masa-masa sebelum Blitzkrieg oleh Nazi ke Polandia pada tahun 1939 (yang memulai Perang Dunia Kedua) sebagai “ketegangan yang bertumpuk” dan “krisis yang memuncak.”

4

10 September 2001, saat di mana tak ada seorang pun legislator Amerika Serikat yang berpikir untuk mengajukan Undang-Undang yang mengharuskan setiap kokpit pesawat penumpang dilengkapi dengan pintu anti peluru. Saat-saat di mana kepercayaan terhadap keselematan penerbangan sipil sedang pada titik tertinggi sehingga membuat usulan Undang-Undang (yang sebenarnya adalah persiapan terbaik untuk menghadapi pembajakan pesawat) seperti yang Kutu sebutkan tadi menjadi tidak populer karena tingginya biaya. Situasi posiif’ ini justru ‘melegalkan’ serangan terhadap menara kembar, yang menjadi salah satu simbol Negara adidaya itu, keesokan harinya.

5

Ketenangan massal pada akhir tahun 2004 di wilayah Asia Tenggara yang membuat tak ada seorang pun yang mempunyai ide untuk membuat sistem peringatan dini sebagai persiapan untuk tsunami, seperti ‘memberikan izin’ bagi gelombang besar itu untuk memakan korban lebih banyak.

6

Kepercayaan ekonomi dan keyakinan pasar yang tinggi-lah, yang membuat keruntuhan pasar modal pada tanggal 19 Oktober 1987 di Amerika Serikat menyebabkan kebangkrutan besar-besaran hingga menimbulkan krisis yang sistemik. Semuanya terjadi karena mereka tidak memiliki persiapan untuk menghadapi keruntuhan seperti itu.

NP : Tidak semua yang kita analisa, akan berakhir seperti yang kita pikirkan. Jangan remehkan persiapan untuk menyambut sesuatu yang tidak pernah diramalkan akan terjadi. Periksa lagi setiap kata yang Kutu garis bawahi.

11 responses to “Segerombolan Kisah Ayam

  1. Ping-balik: Tweets that mention Segerombolan Kisah Ayam « KutuBacaBuku -- Topsy.com

  2. (Maaf) izin mengamankan KEDUAX dulu. Boleh, kan?!
    seringkalai kita terlena oleh suasana yang terlihat tentram dan kondusif ishengga ketika cobaan dan tantangan datang jadi kaget

  3. prepare… sedia payung sebelum hujan.
    Wah padahal gw, si ayam inih, orang yang suka bertindak impulsif tanpa perancanaan. Hahahaha

  4. Tidak ada salahnya untuk terus waspada, mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk🙂

  5. kutu jd agen asuransi? hihi…pissss…

  6. Ayamnya sedang di lempar di tempat saya, sekarang sedang dikejar-kejar oleh teman-teman😀

  7. kadang2 emang kejadian di dunia ini bukan suatu hal yang berulang melainkan kejadian yang baru terjadi pertama kalinya, jadi tidak bisa diprediksikan🙂 nice post

  8. Wah, poto kapten kapal Titanic mirip ama yang di pilemnya ya.🙂

  9. Ping-balik: Apa sih Kesia-siaan itu ? | KutuBacaBuku

  10. Discovered your site on del.icio.us these days and really liked it.. i bookmarked it and is going to be back to check it out some much more later.

  11. I’m impressed, I have to say. Actually hardly ever do I encounter a blog that’s both educative and entertaining, and let me inform you, you’ve hit the nail on the head. Your concept is excellent; the issue is something that not enough persons are talking intelligently about. I’m very completely satisfied that I stumbled throughout this in my seek for one thing referring to this.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s