Belajar Dari Mereka Yang Terkenal

Hidup itu begitu unik. Seseorang yang berkoar-koar bahwa dirinya adalah seseorang yang original, pada hakikatnya hanyalah peniru paling ulung. Yap, di dunia di mana kita hidup sekarang, di mana datangnya informasi bagaikan hujan yang turun di siang hari, tidak banyak hal yang benar-benar baru. Musisi, Aktor, Penari, bahkan Penulis sekalipun, banyak di antara mereka yang mencari inspirasi dari para pendahulunya di bidang tersebut. Tak masalah sebenarnya, asal mereka tidak malah beralih profesi menjadi seorang plagiator.

Begitu juga dengan Kutu yang bercita-cita menjadi seorang penulis dan jurnalis. Kutu sering melihat kesuksesan mereka-mereka yang telah mendahului Kutu dalam bidang ini, bukan dengan rasa dengki, melainkan dengan obsesi untuk menyamai atau bahkan melebihi mereka, dalam penyebaran kebaikan. Kutu baca karya-karya mereka, cari tahu kisah masa kecil mereka, hingga kutipan ucapan-ucapan mereka yang terkadang banyak diabaikan orang. Semuanya bagaikan mozaik, yang bila dikumpulkan … voila, jadilah kuliah gratis tentang ‘bagaimana menjadi seorang penulis yang baik.’

Sidney Sheldon

Sidney Sheldon

Ketika kecil, Kutu begitu terinspirasi dengan seorang Sidney Sheldon. Entah bagaimana Kutu menemukan 3 buku Sidney Sheldon milik Tante Kutu (yang sekarang sayangnya sudah hilang entah ke mana), yang sampai saat ini masih Kutu ingat judulnya : If Tomorrow Comes part 1, Windmills of The Gods, dan The Other Side of Midnight, dalam terjemahan Bahasa Indonesia tentunya😀 . Yang menarik adalah Kutu harus sembunyi-sembunyi ketika membaca buku-buku tersebut. Kutu sembunyikan buku-buku itu di bawah tempat tidur dan hanya dikeluarkan di malam hari untuk dibaca, ketika orang tua Kutu sudah tidur.

Kenapa begitu? Kutu kecil adalah seorang anak yang naïf, bagi yang sering membaca buku-buku Sidney Sheldon pasti tahu gaya penulisan Sidney yang menggabungkan romantisme (baca : erotisme dan sex) dengan misteri yang bikin penasaran. Kutu kecil begitu takut bacaan yang begitu menarik itu akan diambil darinya dengan alasan klasik ‘buku ini bukan buat anak kecil.’ Jadilah buku-buku itu hanya dibaca di bawah sinar neon 10 watt, padahal kalau bisa flash back, mungkin Kutu akan membacanya kapan pun Kutu mau, kemudian berdiri dan mengatakan,

“I just want to read the book for the mystery and the complication on it, not the porn.”

Keunikan lain soal buku Sidney adalah (entah ini hanya jaman dulu atau sekarang pun masih seperti itu) ada beberapa bukunya yang dibagi 2. Contohnya adalah ‘If Tomorrow Comes’ / ‘Bila Esok Tiba’ di mana Kutu hanya membaca bagian pertama-nya saja dan (Sumpaaaaahhh …) sampai sekarang Kutu masih penasaran akan kelanjutan ceritanya, tentang seorang wanita yang difitnah dalam kasus pembunuhan dan keluar dari penjara untuk memulihkan nama baiknya. Entah kenapa Kutu gak ada niat buat download ebook-nya ya? Mungkin hanya menunggu waktu yang tepat.

Tahapan berikutnya dari inspirasi Kutu untuk menulis datang dari Malcolm Gladwell yang mungkin sudah Kutu sering bahas. Yang mungkin para pembaca belum tahu adalah latar belakang kehidupannya yang penuh dengan ‘keberuntungan.’ Walau keluarganya berasal dari negara kulit hitam yang didominasi oleh warga Kulit Putih namun keluarganya beruntung menjadi keturunan kulit campuran sehingga tidak terlalu ditindas. Gladwell beruntung mempunyai Nenek yang rela berhutang untuk studi anaknya (di mana saat itu begitu jarang ibu yang melakukan hal seperti itu), dan Gladwell pun beruntung mempunyai Ibu yang pintar dan pekerja keras sehingga bisa kuliah di London, di mana ia bertemu dengan Ayah Gladwell, sehingga kini Gladwell pun mempunyai pola pikir yang begitu menakjubkan, jauh dari orang-orang biasa di negara asalnya.

Lalu bagaimana sih biar bisa seperti mereka? Penulis ternama lain, Stephen King memberikan tipsnya untuk kita. Dia mengatakan,

“Membaca dan menulislah sekitar 4 sampai 6 jam sehari. Kalau tidak bisa meluangkan waktu sebanyak itu, maka jangan harap anda bisa menjadi penulis yang baik.”

NP : Intinya adalah, kreatifitas dan kerja keras.

3 responses to “Belajar Dari Mereka Yang Terkenal

  1. (Maaf) izin mengamankan PERTAMAX dulu. Boleh, kan?!
    kemampuan membaca sangat berpengaruh pada kemampuan menulis

  2. Ada istilah benchmarking dalam menulis, yaitu dengan tahapan ATM (Amati, Tirukan, dan Modifikasi). Artinya, jika kita ingin memiliki tulisan yang bagus, jangan malu untuk membaca karya orang lain. Hanya saja jangan berhenti di sini, kita harus melakukan modifikasi. Ambil yang bagusnya, hilangkan yang kurang bagus, dan kreasikan dengan pengetahuan kita sendiri.

  3. bensin campur…membaca adalah sumber dari segala sumber ilmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s