Apakah Musik “Lebih” dari pendidikan ?

Dengan judul di atas, Kutu gak bermaksud melebihkan sebuah aspek kehidupan daripada aspek-aspek kehidupan yang lain. Seperti kita tahu, dalam hidup harus ada skala prioritas, mana yang harus didahulukan, dan mana yang harus ditunda pelaksanaannya, inilah yang disebut skala prioritas. Dan Kutu rasa, banyak tindakan generasi muda sekarang yang mengabaikan skala prioritas ini, dengan melakukan sesuatu atas dasar kebebasan, yang pada hakikatnya cuma ‘mau enaknya aja …’

Salah satu fenomena yang Kutu lihat adalah begitu banyaknya orang-orang, terutama generasi muda, yang menonton acara-acara musik seperti Inbox, Dahsyat, dan acara-acara semisalnya yang sekarang banyak disiarkan di stasiun-stasiun TV swasta. Pasti pembaca tahu kan, acara musik yang pagi-pagi menyajikan para penyanyi-penyanyi yang menyanyi secara ‘lip sync’ atau karaoke di atas panggung dan ditonton banyak orang, biasanya acaranya diadakan di mall-mall gitu. Yang Kutu maksudkan di sini adalah orang-orang yang menonton langsung ya, bukan ibu-ibu rumah tangga yang wajar saja kalau menonton mereka dari televisi di rumah untuk mengisi kebosanan. Kutu bukannya gak suka musik, atau berusaha memberikan imej negatif kepada acara musik. Gini-gini Kutu juga suka musik, bahkan bisa dibilang penggila musik, tapi seperti yang tadi Kutu katakan, seharusnya kita menerapkan skala prioritas dalam segala hal, dan Kutu rasa kurang tepat rasanya menempatkan musik di posisi teratas dalam skala prioritas kita.

Penonton Inbox

Penonton Inbox

Kalau acara Dahsyat di RCTI, mungkin Kutu sedikit memaklumi karena yang menonton langsung di studio adalah orang-orang bayaran yang emang kerjaannya begitu. Tapi coba kita lihat acara Inbox di SCTV, dari segitu banyak yang menonton (yang pastinya bukan orang bayaran), apa gak ada di antara mereka yang punya pekerjaan? Acara Inbox itu disiarkan di pagi hari secara LIVE, di saat orang-orang seharusnya melakukan hal-hal yang produktif seperti bekerja atau sekolah. Bukankah musik itu seharusnya menjadi penghapus penat kita di sore hari setelah seharian bekerja? Atau kini sudah saatnya menukar produktifitas hidup kita dengan menikmati musik?

Beberapa di antara mereka yang menonton langsung acara itu (kadang sampai hujan-hujanan segala lho) adalah pelajar yang memaksakan diri untuk bolos sekolah demi menonton penyanyi-penyanyi favorit mereka, yang lainnya adalah para pengangguran yang bukannya keliling cari pekerjaan malah jingkrak-jingkrak di depan panggung, yang lain lagi adalah para pekerja yang harusnya tiap pagi langsung berangkat ke tempat kerjanya tapi malah nyempet-nyempetin buat melototin penyanyi-penyanyi yang cuma doyan nyanyi ‘lip sync’ itu. Bahkan tak jarang juga anak-anak usia SD yang ikut menonton acara tersebut. Apakah sudah begitu rendahnya gaya hidup dan cara berpikir generasi muda Indonesia?

Repotnya lagi, acara Inbox itu dilangsungkan di tempat-tempat umum terbuka yang dekat dengan pemukiman penduduk sehingga memperparah efek negatif seperti yang saya sebutkan di atas. Padahal kalau kita lihat, mengapa mereka tidak mengadakan acara tersebut di sore atau malam hari, yang memang bukan merupakan jam-jam produktif (kecuali bagi para kalong-kalong yang cuma bekerja di malam hari). Atau kalau emang ngotot pengen menyiarkannya pagi-pagi, ya gak usah ditayangin live, tapi siarkan saja rekaman acara yang berlangsung tadi malamnya, toh gak ada bedanya kan. Atau kalau tidak mau juga, mohon dilangsungkan acaranya di tempat-tempat tertentu seperti Senayan, Balai Sidang, atau Balai Sarbini sekalian.

Ada kisah nyata yang menyedihkan tentang adik teman Kutu yang karena acara-acara seperti Inbox itu jadi sering bohong dan bolos sekolah. Dia bahkan mengejar-ngejar acara Inbox ke mana pun diadakannya, dan mengorbankan sekolahnya. Mentalnya jadi terganggu dan hanya ingin hura-hura, padahal dia masih SMP kelas 2. Dorongan dari teman-temannya dan acara-acara semacam itu untuk menjadi ‘anak gaul’ membuatnya benar-benar berubah dan terancam putus sekolah. Apakah anak-anak bermental seperti ini yang kita harapkan menjadi anak cucu kita?

NP : Ini adalah salah satu bukti lagi betapa televisi sudah kekurangan perannya sebagai penunjang pendidikan di Indonesia, tapi malah merusak pendidikan generasi muda Indonesia.

6 responses to “Apakah Musik “Lebih” dari pendidikan ?

  1. sangat setuju … sepakat …

    go kutu ,,,

    ^_^

    4antum mampir niy … met puasa y …

  2. Ngena banget tuh bang kutu. Gue sepakat ama tulisanmu, ternyata ngga cuma sinetron aj ya tapi acara musik live pake ‘lips sing’ lagi, ikutan berperan ngerusak mental generasi muda. Ijin share ya . . .

  3. Cintai apapun yang akan kamu lakukan hari ini kerena tidak ada yang menarik jika kamu tidak tertarik.

  4. Tak peduli seperti apa hidupmu kamu selalu punya pilihan untuk melihat dari sisi baiknya atau sisi buruknya

  5. A fear will only make you weak and lose confidence Ignore the fear and proceed your step”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s