Wartawan, Apakah Profesi yang Berbahaya ?

Sejujurnya, kalau saat ini Kutu diberi pertanyaan, “Mau jadi apa nanti kalau kerja?” Pasti akan Kutu jawab dengan cepat, “Wartawan.” Entah kenapa, menurut Kutu profesi sebagai wartawan, jurnalis, atau apalah namanya, merupakan sebuah profesi yang bisa memberikan kepuasan batin yang sempurna, walau tidak bisa memberikan kepastian finansial yang nyata. Seluruh hobi Kutu terangkum semua dalam profesi itu, mulai dari menulis, membaca, sampai ke mewawancarai orang. Sebagai catatan, wartawan atau jurnalis yang Kutu maksud di sini tidak terbatas pada wartawan Koran atau infotainment yang harus lari kesana kemari mengejar narasumber, tetapi lebih luas hingga mencakup para penulis-penulis lepas yang hanya duduk di depan komputer dan mengolah otak dan kata hingga menjadi sebuah tulisan yang berbobot.

Selain hobi yang sesuai, mungkin Kutu juga banyak terpengaruhi dari buku-buku yang Kutu baca dan film-film yang Kutu tonton. Untuk buku, Kutu benar-benar terinspirasi oleh Malcolm Gladwell, seorang jurnalis asal Kanada dengan 4 bukunya yang fenomenal : “The Tipping Point”, “Blink”, “Outliers”, dan “What The Dog Saw.” Untuk film, ada 2 judul yang sangat lekat di kepala Kutu yaitu “The Ghost Writer” yang mengisahkan tentang penulis biografi seorang mantan Perdana Menteri Inggris yang ternyata mempunyai kedekatan dengan CIA, serta “Nothing But The Truth” yang menceritakan kisah seorang jurnalis wanita yang harus mendekam selama 1 tahun lebih di penjara karena merahasiakan sumber beritanya yang fenomenal dari polisi.

Malcolm Gladwell

Malcolm Gladwell

Dari buku Malcolm Gladwell, Kutu mendapat kesan bahwa seorang jurnalis itu adalah seorang yang berwawasan sangat luas. Mereka tahu banyak hal dan mengenal banyak orang. Namun di kedua film yang saya sebutkan kemudian, saya malah mendapat kesan yang sesungguhnya merupakan konsekuensi dari wawasan para jurnalis yang demikian luas, yaitu tekanan terhadap profesi jurnalisme itu sendiri. Dalam “The Ghost Writer” tekanan ditujukan kepada penulis biografi mantan Perdana Menteri Inggris oleh seorang warga sipil. Dalam penyelidikan, diketahui bahwa warga sipil itu kecewa karena sang Perdana Menteri berperan dalam mengirimkan anaknya yang tergabung dengan Angkatan Bersenjata ke medan perang hingga meninggal. Dalam film kedua, tekanan datang dari Pemerintah lewat kepolisian dan kejaksaan akibat tulisan sang jurnalis wanita yang menyingkap identitas seorang Agen CIA. Kalau mau ditambahkan, mungkin film “The Bourne Ultimatum” bisa jadi bahan pertimbangan karena di situ diceritakan pembunuhan terhadap seorang jurnalis akibat beritanya, walau bukan merupakan kisah utama dalam film tersebut.

Kutu pikir, semuanya itu hanya ada dalam kisah fiksi, dan tak mungkin terjadi di dunia nyata. Namun ternyata, tekanan-tekanan serupa kepada profesi jurnalis juga terjadi di kehidupan nyata, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Salah satu contoh yang paling jelas adalah pelemparan bom Molotov ke arah kantor redaksi majalah Tempo yang diikuti penyerangan orang tak dikenal kepada Aktivis ICW yang merupakan sumber berita fenomenal terkait. Berita yang dimaksud di sini adalah fokus utama majalah Tempo edisi yang lalu tentang “Rekening Gemuk Perwira Polisi.”

Ada lagi curahan hati seorang jurnalis lokal asal Banten sekitar 3 tahun yang lalu yang akibat tulisannya terkait pembelian mobil mewah untuk Sekda di daerahnya, ia harus memenuhi panggilan ke kantor Sang Sekda dan menerima perlakuan tak mengenakkan yang melecehkan profesinya. Bila mau ditambahkan, walau belum bisa dibuktikan, adalah kematian wartawan Kompas di Kalimantan beberapa hari yang lalu dengan mulut penuh busa (dikabarkan terkait dengan liputan sang wartawan tentang korupsi tambang batu bara). Sedihnya, banyak masyarakat yang malah hanya tutup mata melihat realita ini, karena mereka pun takut akan turut ditekan dan hanya berkata dalam hati “Gak ikut-ikutan ahh …” Jadi yang bisa kita tarik dari berbagai macam kisah dan kejadian nyata ini, apakah wartawan telah menjadi sebuah profesi yang berbahaya akibat kurangnya penghormatan pihak-pihak terkait akan sebuah profesi ini. Bukankah kita sama-sama manusia yang sedang berjuang untuk kehidupan yang fana ini, selama yang diberitakan itu adalah fakta, mengapa tidak kita bela?

NP : Walaupun wartawan adalah profesi yang paling berbahaya di dunia sekalipun, Kutu akan tetap berniat menjadi wartawan koq. Makin bahaya profesi itu, makin asyik lho …😀

5 responses to “Wartawan, Apakah Profesi yang Berbahaya ?

  1. yah…saya juga pengen…
    wartawan lepas..hanya menjadi penulis biasa yang dengan itu bisa kemana-mana..
    contohnya ada kok temen sendiri..Chikastuff..twitternya ada,blognya juga..barusan dia dari singapore kerana twitter,juga ngeblog…
    hehee…

  2. toh klo kita report tentang kisah-kisah kecil di sekitar kita tetap juga wartawan..bukannya blogger juga wartawan ya?setidaknya bagi dirinya sendiri…*eh..

  3. kalo menurutku semua profesi punya resiko mas. tergantung kitanya di sana menempatkan diri:mrgreen:

  4. Spertinya wartawan memang kudu pintar berbagai hal, dan gemar membaca tentunya… Pas banget nih buat Kutu😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s