Inilah sejujur-jujurnya pengakuanku untukmu … IBU

Tulisan ini hanyalah segores torehan cinta,
Cinta yang tak akan pernah tergantikan oleh cinta yang lain,
Cinta terbesar setelah cinta pada Allah dan Rasul-Nya,
Cinta yang tak akan pernah kulupakan sepanjang masa.

Cinta yang kini telah jauh pergi meninggalkan diriku,
Namun ia menyisakan goresan luka abadi dalam hatiku,
Menggetarkan seluruh tubuh dan jasad fanaku,
Cinta yang tak akan pernah habis walau termakan oleh waktu.

Matanya yang selalu memancarkan cahaya ke dalam hatiku,
Menerangi hari-hariku dengan kelembutan nan sejuk,
Memberikan semangat dan harapan bagiku tanpa lelah,
Menenangkan hatiku yang sedang gundah-gulana.

Tangannya yang telah hancur demi membesarkan diriku,
Terasa begitu hangat waktu itu menyapa kulitku,
Menyeka air mataku yang berlinang di malam hari,
Mengusap-usap kepalaku dengan penuh belaian sayang.

Badannya yang kurus tak terawat,
Badan yang telah hancur lebur mengandungku selama 9 bulan,
Tak pernah ia pikirkan sedikitpun,
Walaupun kini buah hatinya telah berdiri tegap perkasa.

Keringatnya yang terus menetes setiap hari,
Tak pernah ia hiraukan terik dan panasnya matahari,
Hanya karena cinta yang demikian besar terpatri di hatinya,
Cinta sejati yang dianugerahkan Allah kepadanya.

Air matanya yang berlinang setiap malam,
Takkan sanggup tertadahkan oleh bejana manapun,
Hatinya yang selalu tersayat tak pernah ia buka,
Ia pendam semuanya hingga maut memanggil dirinya.

Ya Allah, aku rindu semua itu…

Aku rindu teriakan merdunya yang memanggilku untuk bangun tidur,
Aku rindu senyuman hangatnya yang mengawali setiap hari-hariku,
Aku rindu mengecup halus punggung tangannya di setiap pagi,
Aku rindu pada sambutannya ketika aku pulang sekolah.

Aku rindu saat-saat menonton televisi bersamanya,
Penuh canda tawa yang renyah hingga ia pun tersenyum,
Aku rindu makiannya saat aku pulang kemalaman,
Tanpa kenal lelah ia menasehatiku untuk selalu menjadi lebih baik.

Ya Allah, hapuskanlah semua dosa-dosanya…

Ia sadar kalau ia belum mengenakan hijab untuk menutupi auratnya,
Namun ia menginginkan anaknya untuk tidak lagi membuka auratnya.
Ia sadar kalau ia sering melewatkan shalat lima waktu,
Namun ia menginginkan anaknya selalu menjaga shalat lima waktu.

Ia sadar kalau bacaan Qur’annya masih kacau balau,
Namun ia sangat menginginkan anaknya menjadi seorang qari’ yang faqih.
Ia sadar kalau pengetahuan agamanya sangat minim,
Namun ia menginginkan anaknya menjadi seorang ulama yang dihormati.

Ia sadar kalau ia hanya lulusan SMEA kelas rendah,
Namun ia menginginkan anaknya menjadi seorang sarjana yang pintar.
Ia sadar kalau ia hanya seorang yang kurang mampu,
Namun ia menginginkan anaknya menjadi seorang kaya yang dermawan.

Masya Allah, betapa besar cita-citamu wahai ummi…

Allah lebih mencintaimu daripada aku, Ibu.
Penderitaanmu terasa cukup untuk kau tanggung.
Rasa sakit hatimu sudah tidak mampu terbendung lagi.
Karena itu Allah memanggilmu menuju sisi-Nya yang penuh kenikmatan.
Untuk menikmati kebahagiaan abadi yang dulu tak pernah kau rasakan.

Tak usah memikirkan anak-anakmu lagi, wahai mujahidah yang mulia.
Mereka kini telah pasrah melepas kepergianmu,
Walau rasa kesepian akan selalu menghantui hati mereka,
Kesepian akan kasih sayangmu yang tidak tergantikan oleh apapun.

Sebentar lagi mereka akan memenuhi semua cita-citamu yang dulu,
Kami akan tumbuh menjadi seorang dewasa yang bertanggung jawab,
Kami akan menjadi seorang mulia dengan namamu di belakang kami,
Kami akan mengarungi sisa hidup ini dengan cintamu di hati kami.

Gembiralah, wahai sebaik-baik wanita dalam hidupku…

Engkau hanya meninggalkan berbagai kenangan manis di dunia ini,
Permusuhan yang dulu terjadi kini telah hilang dengan kematianmu.
Namamu telah terkenang baik di hari engkau pergi,
Andai saja kau bisa melihat banyaknya orang yang menghadiri pemakamanmu,
Dan menyaksikan mereka begitu terpukul ditinggalkan dirimu.

Api yang membakarmu telah menghapuskan dosa-dosamu, yaa ummi,
Api itulah yang mengantarkanmu kepada syahid yang indah,
Api yang dulu membakar Nabiyullah Ibrahim Alaihis Salam,
Telah datang menjemputmu menuju taman-taman yang permai di sana.

Kulitmu yang hangus terbakar, terpanggang api yang panas,
Kelak akan diganti dengan sebaik-baik kulit beraroma kesturi.
Wajahmu yang gosong dan hancur dan menjadi buruk rupa,
Kelak akan diganti dengan wajah seorang bidadari yang cantik jelita.

Rasa panas yang menyiksa dirimu selama seminggu itu,
Tak akan pernah kau rasakan lagi selamanya, Ibu.
Allah akan menggantinya dengan rasa sejuk setiap waktu,
Diiringi rasa tenang dalam naungan keridhaan Allah padamu.

Engkau bagaikan seorang Sumayyah dalam hati Ammar bin Yasir,
Penderitaanmu terasa lengkap di dunia yang menyiksa ini.
Tenang saja ibu, engkau telah melaluinya dengan sempurna,
Hingga pasti Rasulullah akan bangga mempunyai ummat seperti engkau.

Nama besarmu akan terkenang di dalam hati setiap yang mengenalmu,
Walau engkau bukan pahlawan atau orang yang berjasa besar bagi dunia,
Tapi engkaulah sebesar-besar pahlawan dalam hidupku,
Engkaulah sebaik-baik pembimbing dan semulia-mulianya hati.

TENANG DAN BAHAGIALAH DI SANA, WAHAI UMMU MUHAMMAD…

SURGA ALLAH TELAH TERBUKA LEBAR MENANTI JASADMU MEMASUKINYA…

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”{Al-Fajr:27-30}

(Aditya Hadi Pratama – 15 Maret 2009)

Sudah lama sekali kutu menulis tulisan ini di Notes Facebook, entah apalah namanya. Puisi, narasi, atau apalah kutu tidak mengerti. Kutu menulisnya dengan pikiran yang menerawang tentang ibu kutu yang sudah berselimut tanah. Semoga beliau tenang dan dimudahkan Allah untuk mencapai surga-Nya. Dengan bangga kutu mengikutkannya ke Karnaval Blog : Minum Teh Bersama Ibu yang diadakan Pakde Guskar.

Semoga bermanfaat …

18 responses to “Inilah sejujur-jujurnya pengakuanku untukmu … IBU

  1. Tak pernah habis kata utk seorang ibu…. Like this Adit meskipun udah ‘basi’ bagi gue mengingat ini tulisan di notes FB loe…!!!

    dan, pada akhirnya gue menangissss lagi……….!!!

  2. ada sisi lain dari seorang ibu yg dituliskan di sini..

    artikel ini sdh tercatat sebg peserta karnaval blog. terima kasih, Kutu.🙂

    • sama2 pakde guskar. terima kasih jg tlah mengingatkan kutu akan kenangan tentang seorang makhluk besar bernama ibu. luph u mom … so much

  3. Sungguh menoreh hati tulisan Adit tentang bunda. Apakah ini kisah sesungguhnya dari kepulangan beliau ke haribaanNya? Melalui sebuah malapetaka api? Subhanallah. Semoga bunda Adit mendapatkan tempat yang sebaik-baiknya di sisi Allah SWT. Amin.

    • kutu sih pengennya g kyk gt mbak, sayangnya ini adalah kisah nyata sekitar 3.5 tahun yg lalu, ketika mamah kutu menjadi satu2nya korban wkt sebuah kebakaran melanda rumah kutu. sampai skarang smuanya masih kyk mimpi. tp kita smua musti terus melangkah kan …

  4. Jangan sedih, Kutu..
    Ibu kita pasti tenang dan bahagia di sana🙂

  5. Peran,kasih sayang,cinta dan pengabdian ibu memang ak tergantikan.
    Bagi saya,ibu2 benar seorang pahlawan.
    Salam hangat dari Surabaya

    yahh, ibu adalah sebesar2nya pahlawan buat kutu, salam hangat dari jakarta pakde

  6. Catatan Menjelang Karnaval Blog MTBI
    Pertama, saya wajib mengucapkan terima kasih kepada teman-teman narablog yang telah mengirimkan artikel untuk meramaikan acara Karnaval Blog : Minum Teh Bersama Ibu. Artikel yang masuk cukup banyak, yaitu 50 naskah. Artikel yang dikirimkan ada yang berupa, Esai, Fiksi, Puisi, atau Ringan Interesan. Semua bagus, dan itu telah membuat saya kesulitan mana yang akan ditampilkan dalam karnaval nanti.
    http://guskar.com/2009/12/13/catatan-menjelang-karnaval-blog-mtbi/

    baik pakde guskar, semua kutu terima dengan penuh harap, semoga kutu termasuk 8 orang yang beruntung itu, hee. salam hangat …

  7. “Aku rindu teriakan merdunya yang memanggilku untuk bangun tidur”
    Mengingatkan saya pada alm Ibu saya Mas😦

    sama neh kang, makanya kutu sekarang klo bangun pagi telat terus, huu huu huu

  8. wah.. jadi bingung mau komentar apa..

    hee, gpp kali did. dengan kunjungan dida ja kutu dah seneng koq, hee

  9. jika kau lihat sayang
    mataku berkaca-kaca
    jantungku berdebar kencang
    kasihmu menyentuh qalbuku
    karena aku pun seorang ibu

    Ummi pasti bangga karena punya anak yang sholeh seperti kutuku yang selalu mendoakannya….

    mudah2an sperti itu y mbk. coz kutu bnr2 menyesal blm bs bahagiain mamah sampai akhir hayatnya

  10. hiks….hiks….jadi ingat dan kangen sama ibu.
    sebagai anak semoga kita bisa membahagiakan beliau.
    salam hormat utk ibunya Kutu ya.
    semoga beliau selalu sehat, amin.
    semoga sukses dlm acar minum teh di tempatnya Guskar.
    salam.

    Aminnn … mudah2an kutu bisa membahagiakan mamah yang udah di akhirat sana dengan prestasi kutu di dunia. Maaf bunda, kayaknya ada mispersepsi deh, ibu kutu betul2 udah meninggal …

    • Subhanallah, maaf ya kutu, bunda ikut prihatin juga ikut mendoakan semoga Beliau ditempatkan ditempat yg terhormat olehNYA, amin.
      salam.

      aminn … smoga aja kebaikannya berbuah surga yah bunda. I love my mom

  11. beliau pasti tenang disana jika sekarang kutu jadi anak yang baik… narasi/puisi yang indah banget… sip..! moga bisa menang di karnaval.. saingannya banyak.. hehe

    selain banyak saingan, mereka juga lebih kreatif dan pandai merangkai kata daripada kutu yang hanya melampiaskan emosi ini, hee … moga bermanfaat ajah buat yg baca ^^

  12. Dr crita2 km, mbah uti, aq bs membayangkan betapa baikny ibu km,, ibu km pasti bangga pny anak spt km, dan alangkah bahagiany lg klo melihat anakny sukses dan bahagia… Semangat ya pa kutu.. Wlpn ga da yg bs menggantikan bliau, tp msh ada org2 d sktar km yg slalu ada utk km,, smile.. ^^,

    gak perlu diceritain pun kebaikan mamah kutu udah mendarah daging sepertinya. Hee, terima kasih atas commentnya yah nona kutu, eh salah, miss lebah, hee. contohnya siapa yah yg bisa ngasih sayang ke kutu ^^

  13. wow… goresnya baguZ bGT…
    remember my mOther…
    like ur writting…
    berharap bs menulis sprt ne jg..
    hehe

  14. mei norma lita sari

    jgn bersedih teruz meneruz kutu kita haruz ikhlaz dgn smua ini, ini kehendak tuhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s