Lowongan naskah Penerbit Grafindo

SEKARANG saatnya anda mengirimkan karya anda kepada Penerbit Hamdalah an imprint of Penerbit Grafindo Media Pratama dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Naskah bisa dikirimkan melalui pos ke alamat : Jl Pulo Kambing No.9 Kawasan Industri Pulo Gadung 13930 ATAU melalui email penerbitgrafindo@ yahoo.com atau penerbit.grafindo@ grafindo. co.id
  2. Format naskah: mohon ditulis dengan font times new roman, poin 12, margin masing-masing 2cm di kertas A4.
  3. Tidak sedang ditawarkan ke penerbit lain.
  4. Ide orisinil, bukan saduran atau plagiat.
  5. Naskah disertai surat pengantar, daftar isi buku, ringkasan isi buku.

Lalu, naskah jenis apa yang dibutuhkan :
1. Keluarga Islami
2. Ibadah dan doa
3. Politik islam
4. motivasi
5. kesehatan islam
6. biografi
7. ekonomi syariah
8. fikis, dsb

MOHON DISEBARKAN KE REKAN-REKAN ANDA
SEMOGA EMAIL INI MENGINSPIRASI ANDA UNTUK BERBUAT BAIK MELALUI TULISAN

Wasalam

Lufti Avianto, S.Sos
Acquisition Editor “Hamdalah”
an imprint of Grafindo
HP :
085691792704
Jl Pulo Kambing No.9 Kawasan Industri Pulo Gadung
http://www.grafindo. co.id

13 responses to “Lowongan naskah Penerbit Grafindo

  1. Arogansi penerbit Grafindo

    Suatu hari saya dikontak oleh editor penerbit grafindo. Mereka mengatakan tertarik pada naskah saya dan berniat untuk menerbitkannya. Sebelumnya saya telah mengirim naskah saya ke beberapa penerbitan buku. Kemudian dalam jangka waktu 2 bulan, karya saya direspon oleh 5 penerbit, termasuk grafindo media pratama yang berkantor di kawasan industri pulogadung Jakarta timur. Saya mempekerjakan beberapa orang dalam satu team untuk membantu saya dalam mengerjakan project karya pribadi tersebut. akhirnya saya memutuskan untuk memilih penerbit grafindo sebagai mitra kerjasama. Sedangkan penerbit yang lain saya tolak tawarannya dengan halus lewat email. Dan saya menyatakan untuk menerbitkannya ke grafindo media pratama. Saya pun mengajukan jual putus karya sebesar nominal yang telah disepakati, demi menutup biaya produksi akhirnya mereka setuju. Setelah menjalani prosedur tehnis yang ditetapkan grafindo, saya mencoba kooperatif termasuk menunaikan segala kewajiban saya sebagai penulis dengan pihak grafindo, dalam bentuk presentasi konsep naskah, presentasi konten buku, prersentasi dummy cetak, termasuk memberikan softcopy naskah asli dan konten yang siap cetak ke manajer editor dan team editornya. Bahkan pihak grafindo ikut mengedit kontennya. Mereka mengatakan akan mencetak naskah saya kedalam bentuk buku pada bulan desember 2008. kemudian mereka memberikan kepada saya draft /contoh surat perjanjian penerbitan disertai dengan pasal-pasal antar kedua belah pihak perihal perihal hak dan kewajiban termasuk kompensasi untuk penulis. Setelah melewati fase presentasi berkali-kali yang cukup menyita waktu dan tenaga, selesailah sudah kewajiban saya sebagai penulis menyerahkan semua konten asli naskah ke pihak grafindo.Mereka menjanjikan, akan memberikan surat perjanjian terbit dan akan membayar karya saya, setelah proses editing selesai Namun anehnya, setelah proses editing selesai, pihak grafindo tidak memberikan kepada saya surat perjanjian terbit yang asli dan mereka janjikan sebelumnya Ketika saya konfirmasi berkali-kali jawabnya, belum ditandatangani atasan yang bersangkutan. orang manajemen keuangan dan operasional. Saya lelah dan jengkel mendapat jawaban yang serupa dengan alasan yang sama hingga berbulan-bulan. Padahal naskah saya sudah disetujui untuk diterbitkan oleh manager editor, bahkan sudah selesai diedit oleh team editor dan layout. Saya tidak habis pikir, kenapa grafindo tidak transparan dan tidak profesioanal dalam menangani hak penulis? Saya merasa dibohongi. Padahal penulis merupakan asset mereka dalam dunia bisnis penerbitan.. selalu tidak jelas dan tidak jelas! Saya merasa sangat kecewa sekali terhadap grafindo karena saya sudah menolak tawaran penerbit lain, demi grafindo! Ditambah lagi dengan ketidakjelasan kompensasi pembayaran beli putus karya yang merupakan hak penulis, mereka abaikan seenaknya! Akhirnya naskah karya saya tarik meskipun saya menderita kerugian secara moril dan materil. Terlebih saya harus membayar team yangt elah membantu saya dalam pengerjaan buku tersebut.
    Saya harap semoga grafindo introspeksi diri dan jangan arogan. Penulis punya hak, karena penulis juga manusia! Butuh makan dan minum untuk membuat karya. Untuk itu janganlah sewenang-wenang terhadap penulis!
    Jangan bikin malu dunia penerbitan….

    Ary Vrhaz
    Redaksi Harian seputar indonesia (SINDO)
    rockerpemalu@yahoo.com

  2. Arogansi penerbit Grafindo

    Suatu hari saya dikontak oleh editor penerbit grafindo. Mereka mengatakan tertarik pada naskah saya dan berniat untuk menerbitkannya. Sebelumnya saya telah mengirim naskah saya ke beberapa penerbitan buku. Kemudian dalam jangka waktu 2 bulan, karya saya direspon oleh 5 penerbit, termasuk grafindo media pratama yang berkantor di kawasan industri pulogadung Jakarta timur. Saya mempekerjakan beberapa orang dalam satu team untuk membantu saya dalam mengerjakan project karya pribadi tersebut. akhirnya saya memutuskan untuk memilih penerbit grafindo sebagai mitra kerjasama. Sedangkan penerbit yang lain saya tolak tawarannya dengan halus lewat email. Dan saya menyatakan untuk menerbitkannya ke grafindo media pratama. Saya pun mengajukan jual putus karya sebesar nominal yang telah disepakati, demi menutup biaya produksi akhirnya mereka setuju. Setelah menjalani prosedur tehnis yang ditetapkan grafindo, saya mencoba kooperatif termasuk menunaikan segala kewajiban saya sebagai penulis dengan pihak grafindo, dalam bentuk presentasi konsep naskah, presentasi konten buku, prersentasi dummy cetak, termasuk memberikan softcopy naskah asli dan konten yang siap cetak ke manajer editor dan team editornya. Bahkan pihak grafindo ikut mengedit kontennya. Mereka mengatakan akan mencetak naskah saya kedalam bentuk buku pada bulan desember 2008. kemudian mereka memberikan kepada saya draft /contoh surat perjanjian penerbitan disertai dengan pasal-pasal antar kedua belah pihak perihal perihal hak dan kewajiban termasuk kompensasi untuk penulis. Setelah melewati fase presentasi berkali-kali yang cukup menyita waktu dan tenaga, selesailah sudah kewajiban saya sebagai penulis menyerahkan semua konten asli naskah ke pihak grafindo.Mereka menjanjikan, akan memberikan surat perjanjian terbit dan akan membayar karya saya, setelah proses editing selesai Namun anehnya, setelah proses editing selesai, pihak grafindo tidak memberikan kepada saya surat perjanjian terbit yang asli dan mereka janjikan sebelumnya Ketika saya konfirmasi berkali-kali jawabnya, belum ditandatangani atasan yang bersangkutan. orang manajemen keuangan dan operasional. Saya lelah dan jengkel mendapat jawaban yang serupa dengan alasan yang sama hingga berbulan-bulan. Padahal naskah saya sudah disetujui untuk diterbitkan oleh manager editor, bahkan sudah selesai diedit oleh team editor dan layout. Saya tidak habis pikir, kenapa grafindo tidak transparan dan tidak profesioanal dalam menangani hak penulis? Saya merasa dibohongi. Padahal penulis merupakan asset mereka dalam dunia bisnis penerbitan.. selalu tidak jelas dan tidak jelas! Saya merasa sangat kecewa sekali terhadap grafindo karena saya sudah menolak tawaran penerbit lain, demi grafindo! Ditambah lagi dengan ketidakjelasan kompensasi pembayaran beli putus karya yang merupakan hak penulis, mereka abaikan seenaknya! Akhirnya naskah karya saya tarik meskipun saya menderita kerugian secara moril dan materil. Terlebih saya harus membayar team yang telah membantu saya dalam pengerjaan buku tersebut.
    Saya harap semoga grafindo introspeksi diri dan jangan arogan. Penulis punya hak, karena penulis juga manusia! Butuh makan dan minum untuk membuat karya. Untuk itu janganlah sewenang-wenang terhadap penulis!
    Jangan bikin malu dunia penerbitan….

    Ary Vrhaz
    Penulis & illustrator koran seputar indonesia ( SINDO )
    rockerpemalu@yahoo.com

  3. Mas Arrryyy Vrhaz si Roker pemalu tolong dijawab ya

    Kenapa posting coment-nya sampe dua kali?
    Apakah anda sangat kecewa, kesal, dan marah dengan penerbit tersebut?

    Aku cuma bisa ambil hikmah dari kejadian yang menimpa Mas Ary…..
    Hati-hati………waspada dengan janji-janji palsu penerbit………..

    semangat….. terus berjuang dan berkarya mencari keadilan:)

  4. Ada ya penerbit kayak gitu di negara kita…………..?????!!!!!!
    saya akan bookmark nama penerbitnya:p

  5. Tapi g smuanya begitu koq …

    Kebetulan saya juga penerjemah freelance di Salamadani, anaknya Grafindo gitu, tapi alhamdulillah lancar2 aja aliran dananya … coba aja di kroscek secara baik2 dl, biar g suudzhon … ^^

  6. Mas Adityahadi, salamadani dan grafindo itu meskipun dia satu group, manajemen beda gak seh?
    Satu group bisa aja kan manajemennya beda. Bisa aja antara 2 penerbit, meskipun satu group, manajemennya beda. Dan, bisa aja di tempat Mas Adityahadi manajemennya baik dan di tempat Mas Ary Vhraz manajemennya kurang baik? Adik-kakak yang bersaudara kandung saja mempunyai sifat dan prilaku yang berbeda, bisa aja adiknya baik, kakaknya kurang baik, atau sebaliknya. iya, kan?
    Hal itu mah, menurut saya biasa terjadi. Mungkin, apa yang dirasakan Mas Adityahadi dengan kelancaran aliran dananya itu benar dan mungkin juga benar keluhan di tempat Mas Ary Vraz tentang aliran dananya kurang lancar?
    Aku juga pernah mengalami hal itu kok di tempat kerjaku, tapi bukan di dunia penerbit.
    Semoga Mas Ary Vhraz mendapatkan kemudahan seperti Mas Adityahadi.

  7. Mas mas sekalian…

    saya bukannya mau sok tahu…
    tapi mau ikut menjelaskan…
    salam madani dan grafindo itu sebetulnya berada di bawah manajemen yang berbeda. Yang sama itu hanya pemilik modalnya saja….

    Grafindo sendiri dibagi dua… yaitu Grafindo Bandung dan Grafindo Jakarta…
    sebetulnya, redaksi Grafindo awalnya hanya ada di bandung. Kemudian, pada 2008 dibentuk redaksi Grafindo Jakarta (menempati kantor direksi dan marketing yang sudah ada sebelumnya). Tadinya, team nontextbook di Bandung akan dipindahkan ke sana, namun sebagian besar mereka menolak dan resign.

    Jadi sampai saya pergi meninggalkan Grafindo, Grafindo yaitu Grafindo jakarta yang fokus pada penerbitan buku umum, dan di Bandung yang masih wara-wiri dengan produk2 pendidikan.
    Nah, kalau Salamadani beda lagi… gitu…
    Tapi sekarang salamadani telah menempati gedung yang dulu dijadikan gedung kebanggaan Grafindo.

    • Mas.. Mas… Sekalian.
      Saya juga pernah mengalami “dibegitukan” spt Mas Ary. Wktu itu sy dijanjikan oleh Bpk Junjunan. Yah, gitu deh.

      Salam Madani? Sama aja kali, ya…

  8. J. Moldy Yunendra

    Wah…wah..wah…wah… (*sambil geleng2 kepala)
    sungguh mmalukan kondsi pnrbitan di indosia. Sadarrr dong ngakunya orng pnerbtan intelektual dan cerdas, tpi kok culas gitu sih. Gak bisa beda hak dan kewajiban. Ya…ya…, mungkin itu sebagian sifat manusia kalee culas. Namanya juga gak ada manusia yang sempurna. Oke dh moga cpet slese aj.

    sabar mas, sabar … hee, mungkin lagi khilaf ajahh

  9. o ya mas, sy juga ada rncana mnyelesaikan karya buku dan mengrmkan ke pnerbit, klw blh sy mnta saran..apa sj hal2 yang hrs dipersiapkan..mksh

    KUTU : cukup siapkan CV dan portofolio / naskah, langsung aja kirimkan ke penerbit n tunggu balasannya. Itulah yang sekarang sedang Kutu lakukan ^^

  10. Sekadar berbagi pengalaman saja. Pada pertengahan 2008, saya dan teman-teman Selaras Cosulting mengajukan naskah buku ke Salamadani. Waktu itu, bahkan diterima langsung oleh para petinggi Salamadani (Mas Bambang dan Mas Tasaro). Setelah beberapa kali pertemuan (yang nyaris 4 bulan), akhirnya kami diminta menandatangani Surat Perjanjian Kerjasama. Salah satu pasal di dalam perjanjian tersebut memuat klausul batas waktu penerbitan dan konfirmasi dari penerbit–baik telah maupun belum diterbitkan.

    Namun, hingga pertengahan 2010, belum ada konfirmasi dari pihak Salamadani. Baik dari para petingginya, maupun dari pihak yang bertanggung jawab menangani buku kami. Padahal, salah satu klausul yang kami tawarkan, kami siap memasarkan sendiri buku (yang kami ajukan itu) lewat training atau outbound yang kami selenggarakan. Lebih rumit lagi, jika kami yang menghubungi Salamadani, tak terjalin komunikasi yang menyenangkan. Beberapa kali janji pertemuan, baik di Jakarta ataupun di Bandung, ternyata tidak terlaksana karena dimungkiri oleh teman-teman Salamadani.

    Efek dari semua kejadian di atas adalah diberhentikannya saya sebagai karyawan di Selaras (meskipun pihak Selaras tidak menyebutkan peristiwa ini sebagai pemicu pemberhentian saya). Secara pribadi, karena saya tidak tercatat sebagai karyawan Selaras Consulting lagi, saya sama sekali tidak punya kepentingan dengan terbit atau tidaknya buku tersebut. Namun, karena yang menjembatani Selaras Consulting dengan Salamadani adalah saya, maka saya pun kehilangan kepercayaan dari teman-teman Selaras. Meskipun mereka masih kerap meminta saya untuk membantu mereka menghubungi pihak Salamadani.

    Demikian sekadar berbagi informasi. Senang rasanya jika bisa dapat konfirmasi dari teman-teman Salamadani.

    Salam takzim
    Khrisna Pabichara

    KUTU : Jujur Kutu seneng banget dapet comment ini. Pertama karena datangnya dari salah satu idola Kutu, Mas KP (jangan ge er yahh ^^). Kedua, karena dengan ini Kutu jadi punya pandangan yang lebih objektif tentang penerbitan buku.

    Di tahun yang sama, kebetulan saat itulah Kutu pertama kali (sampai saat ini sih masih menjadi kali terakhir juga😀 ) berhubungan dengan Salamadani. Nanti coba Kutu hubungi deh penghubung2 Kutu dengan Salamadani waktu itu, sekarang sih mereka dah pada keluar, tapi mungkin dengan begitu Kutu bisa dapet titik terang masalahnya, buat jadi pembelajaran juga buat kita semua.

    Salam

  11. Salam,
    Hari ini saya baca postingan penerbit grafindo yang sedang mencari naskah. Saya punya, sebentar lagi final (dalam minggu ini). Dijamin naskah saya bagus. Saya ceritakah hal tsb sama Penebit Grafindo. Saya tanya apa Anda tertarik? dia menjawab : ya silahkan kirim, kepengin lihat…

    Barusan mau saya kirim langsung, via email dia, tapi kok ragu, lalu saya klik Penerbit Grafindo, dan membaca Pengalaman Menjadi Korban mereka…. Sykurlah saya klik mereka…. jadi saya bisa mempertimbangkan langkah saya. Terimakasih telah ebrbagi pengalam,ini sangat penting untuk sesama penulis.

    Penulis Indonesaia, bersatulah! Kompak berhadapan dengan Penerbit … Tana Penulis, Penerbit akan klepek-kelepek-klepekkkkk

    Salam…

  12. Dono Santosa,S.Pd

    Kalo naskah penunjang pelajaran gemana?Apakah grafindo menerima naskah semacam itu?
    Terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s