Alex Cross is Back !!

Cross Fire

Cross Fire

Bagi para penggemar novel, nama James Patterson (JP) bukanlah nama yang asing. Apalagi buat para penggila genre Misteri dan Thriller, gaya menulis JP yang cepat dengan pergantian setting dan sudut pandang di tiap pergantian bab benar-benar tak ada tandingan. Seri Alex Cross adalah yang terbaik dari semuanya, dan di Seri ke-17 ini, JP lagi-lagi membuat kejutan yang membuat kita tercengang.

Buku ini baru saja diterbitkan kemarin, tanggal 15 November 2010 oleh Little, Brown and Company. Berbentuk Hardcover dan tebal 384 halaman, anda bisa mendapatkannya di Amazon dengan harga $14.96. Mudah-mudahan bisa cepat tersedia di toko-toko buku impor di Indonesia juga.

JP mengawali cerita dengan kisah romantis antara Alex Cross dengan Brianna Stone (Bree) yang akan menikah. Namun di tengah-tengah suasana yang menyenangkan itu, tiba-tiba terjadi pembunuhan terhadap 2 orang koruptor Washington DC; Victor Vinton, seorang anggota Konggres, dan Craig Pilkey, seorang bankir. Rumitnya, pembunuhan itu dilakukan oleh sniper dari jarak yang sangat jauh. Karena itulah Cross yang diperintahkan untuk menangani kasus ini begitu kesulitan mencari saksi, dan ia memperkirakan bahwa penjahat ini adalah orang yang profesional.

Di saat-saat mencekam seperti itu, Alex Cross pun menerima telepon dari musuh bebuyutannya, Kyle Craig, Sang Mastermind itu telah kembali. Isi kepala Alex Cross pun dipenuhi dengan pikiran tentang pembunuhan, pernikahan, Kyle, dan juga Max Siegel, rekannya sesama detektif yang tak pernah berhenti berseteru dengannya. Menarik untuk mengikuti pergulatan perasaan dalam diri Cross itu dan bagaimana ia bisa menuntaskan kasus tersebut pada akhirnya.

Pokoknya novel terbaru JP ini bener-bener keren dehh. Alurnya yang cepat membuat kita tak akan bosan membaca, tapi tetap tertarik untuk mengikuti lanjutan ceritanya. Tongkrongin Blog Kutu terus yah, buat perkembangan novel-novel terbaru lainnya :)

NP : Ada bocoran dikit neh dari yg dah Kutu baca klo Kyle Craig, Sang Mastermind itu datang tidak dengan identitas aslinya. Ia mengubah wajahnya dengan operasi plastik, menyerupai seseorang yang dekat dengan Cross agar bisa membalaskan dendamnya, hayoo tebak dia nyamar jadi siapa?? :D

The Three Musketeers – Alexandre Dumas

The Three Musketeers

The Three Musketeers

Pertama kali Kutu denger istilah “Musketeers” adalah waktu kutu nonton film kartun Tom n Jerry, ceritanya si Jerry dan adiknya yang bandel itu pake pakaian tentara Prancis jaman baheula n musti berhadapan dengan Tom yang jahat. Lucu yah, padahal novel ini adalah salah satu novel terbaik dunia lho, tapi koq yah tahunya malah dari kartun anak kecil :)

Kedua kali Kutu mendengar “The Three Musketeers” adalah dari film “Slumdog Millionaire”, di mana sebelum mendapatkan hadiah utama, pemeran utama di film itu harus menjawab pertanyaan : “Selain Athos dan Porthos, siapakah satu lagi yang termasuk The Three Musketeers?” Untunglah pemeran utama itu menjawab dengan tepat, sehingga cerita berakhir dengan happy ending.

Barulah setelah itu Kutu mencari-cari info dan membaca bukunya. Kutu dapat bukunya dari stand Times sewaktu Indonesia Book Fair kemarin. Buku setebal 564 halaman itu dijual seharga hanya 24 ribu rupiah, murah kan? Dalam Bahasa Inggris lho, jarang2 kan ada buku impor semurah itu, hee.

The Three Musketeers adalah cerita tentang petualangan empat orang pemuda di tengah-tengah pergolakan politik di Perancis di abad pertengahan yang dikarang oleh Alexandre Dumas. Empat orang itu adalah D’Artagnan, Athos, Porthos, dan Aramis. Judulnya Tiga Musketeer, tapi koq tokoh utamanya ada 4?? Hee, jangan bingung dulu, izinkan Kutu bercerita sedikit yah. BTW, Musketeer itu apa sih? hee, Musketeer adalah sejenis tentara infantri (mungkin Pakde Cholik bisa menjelaskan lebih jauh tentang ini ^^) di Perancis jaman dulu. Mereka disebut begitu karena mereka suka memakai Musket, sejenis senjata laras panjang.

Lanjut membaca

[Review] Fall of Giants by Ken Follett

Fall of Giants - Ken Follett

Fall of Giants - Ken Follett

Pertama kali mendengar nama Ken Follett adalah ketika Kutu mendapatkan bukunya yang berjudul “The Pillars of The Earth.” Kutu ‘nemu’ buku itu di Book Fair sekitar 2 tahun yang lalu dengan harga obralan 25 ribu perak, padahal tebelnya sampe seribu halaman lebih lho :D

Ceritanya adalah tentang seorang pekerja bangunan yang miskin dan melarat. Kisah hidupnya dan 3 anaknya bersinggungan dengan perjalanan seorang wanita janda beranak 1 yang suaminya difitnah oleh penguasa saat itu. Dalam keadaan sulit dan melarat, mereka pun harus berhadapan dengan konflik perebutan kekuasaan yang melibatkan para Tuan Tanah dan Gereja.

Duh, koq jadi OOT sih. Kutu tuh bukan pengen ngomongin buku itu, tapi pengen bahas karya terbaru penulis asal Inggris ini, “Fall of Giants”. Dalam buku yang dirilis tanggal 28 September 2010 kemarin ini, Follett membawakan sebuah drama tentang 5 keluarga yang berasal dari negara-negara yang berbeda (seinget Kutu ada Wales, Amerika, Inggris, Rusia n Jerman), namun mereka saling berhubungan satu sama lain di tengah2 suasana genting Perang Dunia I, Revolusi Rusia, dan Perjuangan hak pilih untuk wanita.

Mereka adalah Billy Williams, bocah 13 tahun yang memasuki masa dewasanya di daerah pertambangan di Wales; Gus Dewar, seorang mahasiswa sekolah hukum asal Amerika yang mendapatkan karir baik di Gedung Putih; Grigori dan Lev Peshkov, dua anak yatim dari Rusia yang memutuskan untuk hijrah ke Amerika; Dan yang terakhir adalah Lady Maud Fitzherbert yang jatuh cinta pada seorang mata-mata di Kedutaan Jerman di London, Walter von Ulrich.

Seperti biasa, Follett membawakannya dengan latar belakang sejarah yang terperinci dengan riset yang mendalam. Semua tokohnya hadir dengan emosi yang kaya, didukung dengan nuansa yang terbangun dengan baik. “Fall of Giants” adalah buku pertama dari Trilogi The Century. Buku ke-2 dan ke-3 nya nanti tuh akan bercerita tentang anak cucu tokoh-tokoh di buku pertama dalam melewati perkembangan zaman yang demikian pesat.

NP : It’s Classic … and it’s great !!!

Blogged with the Flock Browser

Surganya para Penggila Buku

Mungkin postingan ini terhitung sangat telat, namun gpp lah, itung2 buat berbagi pengalaman. Dalam tulisan ini Kutu akan bercerita tentang “Surganya para Penggila Buku”, apaan sih itu? Ya tak lain dan tak bukan adalah Indonesia Book Fair (IBF) di Istora Senayan, Jakarta, yang baru saja berakhir hari minggu kemarin. Mengambil tema “Menguak Cakrawala Bumi Parahyangan” (jujur Kutu gak nangkep tema itu di sana :D ), acara ini tak hanya berisi obralan buku, tapi juga banyak acara2 tentang buku, seperti talk show, pentas musik, kuliah singkat, dll.

Indonesia Book Fair 2010

Indonesia Book Fair 2010

Saking nafsunya Kutu buat dateng, dari awal2 buka pun Kutu udah bela2in mampir. Alhasil masih rada sepi n Kutu jadi leluasa buat hunting buku. Di antara stand2 yang menarik perhatian Kutu adalah :

1. Stand buku bekas dan diskon. Kutu lupa nama stand nya apa, tapi waktu nanya2 sih katanya mereka punya kantor di Tebet cuma emang gak punya toko. Mereka cuma biasa hadir pas ada pameran2 doank. Lumayan lho, di situ Kutu borong buku2 James Patterson, Sidney Sheldon, John Grisham, n novel2 Islami dengan harga 20-30 ribu rupiah aja.

2. Stand obralan buku impor. Di situ yang dijual 100% buku impor, dari yang fiksi sampe non-fiksi, tapi kebanyakan bekas sih. Harganya pun berkisar antara 20-50 rb. Sayang Kutu gak kedapetan buku bagus, jadi yah gak beli apa2 deh di sana.

3. Stand Komik bekas. cuma di stand ini orang beli buku kayak beli daging, hehehe. Bayangin aja, jualannya komik Prince of Tennis bekas (yang udah lengkap gitu dari jilid 1 ampe abis) diplastikin gt n panjangnya bisa ampe 1 meter, gmana coba jadinya, hihihi. Di situ Kutu beli komik yg dah lama dicari adik Kutu sebanyak 10 jilid.

Lanjut membaca

Membaca 1001 Buku Sebelum Mati

Hmm, apa yang pembaca rasakan ketika membaca judul di atas ? Sedikit menyeramkan yahh :D . Tenang aja, Insya Allah Kutu belum akan mati koq (aminnn), semoga saja Allah berkenan memberikan lebih banyak umur pada Kutu, sehingga bisa terus mengisi blog gak jelas ini.

Judul di atas Kutu ambil dari sebuah buku dengan judul : “1001 Books You Must Read Before You Die,” yang setahu Kutu terlakhir diupdate bulan Maret tahun ini. Sesuai judulnya, Buku itu berisi 1001 judul buku terbaik yang selayaknya dibaca sebelum kita mati (seremm yahh). Dan akhirnya, buku itu menginspirasi Kutu untuk membuat sebuah misi.

1001 Books You Must Read Before You Die

1001 Books You Must Read Before You Die

Misi apa tuh ? Sebagai seorang (ngaku2 doank sih sebenarnya) Kutu Buku, Kutu berfikir tentang sesuatu yang besar, sebuah rekor, sesuatu yang bisa kita banggakan. Seorang Pesulap bisa bangga dengan bertahan dalam es selama seminggu, seorang Penjaga Gawang bisa bangga dengan rekor tidak kebobolan dalam 20 pertandingan, lalu apa yang bisa dibanggakan dari seorang Kutu Buku? Dari situlah Kutu berinisiatif untuk melakukan sebuah misi dengan mencatat semua buku yang Kutu baca, dan berusaha keras untuk menggenapkan catatan itu menjadi 1001 Buku.

Bukan karena uang logam baru maupun cerita Aladdin, pokoknya sebelum meninggalkan dunia ini, Kutu harus sudah membaca minimal 1001 buku, tentunya lebih banyak akan lebih baik, hehehe. Menurut hitung-hitungan Kutu, umur manusia itu rata2 (Kutu bandingkan dengan umur Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam) ya 6o tahunan. Maka Kutu punya sisa umur sekitar 40 tahun lagi untuk hidup (Ya Allah, semoga Engkau memanjangkan umurku dan mengisinya dengan manfaat!). Karena 1 tahun sama dengan 365  hari maka hitung2annya : Lanjut membaca

Adik-Kakak Dapat Beasiswa, Bisa ?

Di balik kesulitan pasti ada kemudahan … Kutu percaya hal itu, dan alhamdulillah Allah tak pernah menunggu lama untuk menunjukkan kebesaran-Nya pada Kutu. Ceritanya harus flashback ke tahun 2006, sekitar 4 tahun yang lalu.

Tepat sebelum Kutu harus menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN) SMA tahun itu, (Qadarallah) Ibu Kutu harus dipanggil akibat kebakaran di rumah Kutu. Alhamdulillah cobaan itu bisa Kutu hadapi dengan baik. Tapi kelanjutannya benar-benar membingungkan, Kutu bingung mau kuliah di mana. Biasanya kan Bapak dan Ibu kerja, jadi bisa menutupi biaya sekolah, tapi setelah musibah itu terjadi, Kutu khawatir kalau nanti sampai Putus Kuliah karena nggak ada biaya.

President University

President University

Untungnya di tengah kebingungan itu ada telepon dari President University yang menawarkan untuk menjalani tes di sana. Pucuk dicinta Ulam pun tiba, pikir Kutu. Dengan bermodal belajar 3 hari doank … Kutu langsung meluncur ke Cikarang. Dan hari itu juga, jeng jeng :

“Selamat ya Kutu, kamu mendapat Beasiswa Full untuk menjalani kuliah di President University tanpa biaya sepeserpun. Bahkan anda berhak mendapat fasilitas Dormitory dan Uang Makan.”

Kutu benar-benar bersyukur waktu itu, mungkin sampe sujud syukur saking senengnya. Kekhawatiran Kutu yang sebelumnya pun hilang, karena jaminan gratis kuliah itu, walaupun dengan persyaratan menjaga IP. Sekarang tugas Kutu hanya tinggal menyelesaikan kuliah saja dengan menuntaskan Skripsi dan Sidang.

Lanjut membaca

Apa sih Kesia-siaan itu ?

Beberapa waktu yang lalu ada seorang teman yang mengomentari status Facebook Kutu sebagaimana screenshot di bawah ini (maaf y gambarnya rada jelek, hehe) :

Olahraga Itu Sia-Sia ?

Olahraga Itu Sia-Sia ?

Sebagai manusia memang tidak sepantasnya kita melakukan hal yang sia-sia. Namun setelah itu ada yang menggelitik hati Kutu, bahwa ternyata standard kesia-siaan bagi masing-masing orang sangat berbeda-beda.

Khusus untuk kasus di atas, apa menggemari Olahraga termasuk kesia-siaan ? Mungkin bagi beberapa orang buat apa sih ngikutin perkembangan Olahraga, toh gak ada untungnya buat kita.

Tapi buat Kutu, hal itu bukanlah sesuatu yang sia-sia. Kita bisa mengenal banyak orang, dan mempunyai wawasan baru dari olahraga. Di Tenis ada teknologi Line Judging yang menarik untuk dipelajari. Di Formula 1 ada teknologi-teknologi baru yang bermanfaat untuk perkembangan transportasi di masa depan. Namun yang terpenting dari olahraga menurut Kutu, adalah tentang semangat untuk menjadi yang terbaik, semangat sportivitas, dan semangat untuk menciptakan persatuan yang sejati di seluruh dunia. Entah ada berapa banyak lagi manfaat yang bisa didapat dari olahraga.

Lalu bagaimana dengan para penggemar Buku Fiksi ? Mungkin bagi beberapa orang hal ini adalah kesia-siaan. Buat apa sih baca cerita yang jelas-jelas bohong. Mending baca Koran atau nonton berita aja yang jelas-jelas nyata.

Dari sudut pandang Kutu, buku fiksi bukanlah suatu kebohongan, ia hanyalah salah satu sarana pertukaran pemikiran dari si pengarang kepada para pembaca. Pemikiran yang banyak berisi nasehat, manfaat, dan renungan yang baik untuk kehidupan kita. Hanya saja segala kebaikan itu diungkapkan secara tersirat lewat cerita yang dikarang sendiri oleh sang penulis, sehingga terkadang sulit ditangkap oleh beberapa orang. Patut diingat (seperti kutu jelaskan di Postingan Sebelumnya) bahwa tidak segalanya yang nyata itu menunjukkan hal yang sesungguhnya, terkadang kita perlu sedikit berpikir dan berimajinasi untuk mengetahui apa yang sesungguhnya sedang terjadi di sekitar kita. Sekali lagi, kesia-siaan itu tergantung dari sudut mana kita melihatnya.

Karena blog ini bukan ajang mencari pembenaran (duilah si Kutu bahasanya ^^), maka di sini Kutu mengharapka komen yang berisi pendapat pembaca tentang standar kesia-siaan ini, ya monggo, silahkan diberi komentar …