Lowongan naskah Penerbit Grafindo
SEKARANG saatnya anda mengirimkan karya anda kepada Penerbit Hamdalah an imprint of Penerbit Grafindo Media Pratama dengan ketentuan sebagai berikut:
- Naskah bisa dikirimkan melalui pos ke alamat : Jl Pulo Kambing No.9 Kawasan Industri Pulo Gadung 13930 ATAU melalui email penerbitgrafindo@ yahoo.com atau penerbit.grafindo@ grafindo. co.id
- Format naskah: mohon ditulis dengan font times new roman, poin 12, margin masing-masing 2cm di kertas A4.
- Tidak sedang ditawarkan ke penerbit lain.
- Ide orisinil, bukan saduran atau plagiat.
- Naskah disertai surat pengantar, daftar isi buku, ringkasan isi buku.
Lalu, naskah jenis apa yang dibutuhkan :
1. Keluarga Islami
2. Ibadah dan doa
3. Politik islam
4. motivasi
5. kesehatan islam
6. biografi
7. ekonomi syariah
8. fikis, dsb
MOHON DISEBARKAN KE REKAN-REKAN ANDA
SEMOGA EMAIL INI MENGINSPIRASI ANDA UNTUK BERBUAT BAIK MELALUI TULISAN
Wasalam
Lufti Avianto, S.Sos
Acquisition Editor “Hamdalah”
an imprint of Grafindo
HP :
085691792704
Jl Pulo Kambing No.9 Kawasan Industri Pulo Gadung
www.grafindo. co.id
12 Desember 08 pada 11:37 pm
Arogansi penerbit Grafindo
Suatu hari saya dikontak oleh editor penerbit grafindo. Mereka mengatakan tertarik pada naskah saya dan berniat untuk menerbitkannya. Sebelumnya saya telah mengirim naskah saya ke beberapa penerbitan buku. Kemudian dalam jangka waktu 2 bulan, karya saya direspon oleh 5 penerbit, termasuk grafindo media pratama yang berkantor di kawasan industri pulogadung Jakarta timur. Saya mempekerjakan beberapa orang dalam satu team untuk membantu saya dalam mengerjakan project karya pribadi tersebut. akhirnya saya memutuskan untuk memilih penerbit grafindo sebagai mitra kerjasama. Sedangkan penerbit yang lain saya tolak tawarannya dengan halus lewat email. Dan saya menyatakan untuk menerbitkannya ke grafindo media pratama. Saya pun mengajukan jual putus karya sebesar nominal yang telah disepakati, demi menutup biaya produksi akhirnya mereka setuju. Setelah menjalani prosedur tehnis yang ditetapkan grafindo, saya mencoba kooperatif termasuk menunaikan segala kewajiban saya sebagai penulis dengan pihak grafindo, dalam bentuk presentasi konsep naskah, presentasi konten buku, prersentasi dummy cetak, termasuk memberikan softcopy naskah asli dan konten yang siap cetak ke manajer editor dan team editornya. Bahkan pihak grafindo ikut mengedit kontennya. Mereka mengatakan akan mencetak naskah saya kedalam bentuk buku pada bulan desember 2008. kemudian mereka memberikan kepada saya draft /contoh surat perjanjian penerbitan disertai dengan pasal-pasal antar kedua belah pihak perihal perihal hak dan kewajiban termasuk kompensasi untuk penulis. Setelah melewati fase presentasi berkali-kali yang cukup menyita waktu dan tenaga, selesailah sudah kewajiban saya sebagai penulis menyerahkan semua konten asli naskah ke pihak grafindo.Mereka menjanjikan, akan memberikan surat perjanjian terbit dan akan membayar karya saya, setelah proses editing selesai Namun anehnya, setelah proses editing selesai, pihak grafindo tidak memberikan kepada saya surat perjanjian terbit yang asli dan mereka janjikan sebelumnya Ketika saya konfirmasi berkali-kali jawabnya, belum ditandatangani atasan yang bersangkutan. orang manajemen keuangan dan operasional. Saya lelah dan jengkel mendapat jawaban yang serupa dengan alasan yang sama hingga berbulan-bulan. Padahal naskah saya sudah disetujui untuk diterbitkan oleh manager editor, bahkan sudah selesai diedit oleh team editor dan layout. Saya tidak habis pikir, kenapa grafindo tidak transparan dan tidak profesioanal dalam menangani hak penulis? Saya merasa dibohongi. Padahal penulis merupakan asset mereka dalam dunia bisnis penerbitan.. selalu tidak jelas dan tidak jelas! Saya merasa sangat kecewa sekali terhadap grafindo karena saya sudah menolak tawaran penerbit lain, demi grafindo! Ditambah lagi dengan ketidakjelasan kompensasi pembayaran beli putus karya yang merupakan hak penulis, mereka abaikan seenaknya! Akhirnya naskah karya saya tarik meskipun saya menderita kerugian secara moril dan materil. Terlebih saya harus membayar team yangt elah membantu saya dalam pengerjaan buku tersebut.
Saya harap semoga grafindo introspeksi diri dan jangan arogan. Penulis punya hak, karena penulis juga manusia! Butuh makan dan minum untuk membuat karya. Untuk itu janganlah sewenang-wenang terhadap penulis!
Jangan bikin malu dunia penerbitan….
Ary Vrhaz
Redaksi Harian seputar indonesia (SINDO)
rockerpemalu@yahoo.com
13 Desember 08 pada 6:48 pm
Arogansi penerbit Grafindo
Suatu hari saya dikontak oleh editor penerbit grafindo. Mereka mengatakan tertarik pada naskah saya dan berniat untuk menerbitkannya. Sebelumnya saya telah mengirim naskah saya ke beberapa penerbitan buku. Kemudian dalam jangka waktu 2 bulan, karya saya direspon oleh 5 penerbit, termasuk grafindo media pratama yang berkantor di kawasan industri pulogadung Jakarta timur. Saya mempekerjakan beberapa orang dalam satu team untuk membantu saya dalam mengerjakan project karya pribadi tersebut. akhirnya saya memutuskan untuk memilih penerbit grafindo sebagai mitra kerjasama. Sedangkan penerbit yang lain saya tolak tawarannya dengan halus lewat email. Dan saya menyatakan untuk menerbitkannya ke grafindo media pratama. Saya pun mengajukan jual putus karya sebesar nominal yang telah disepakati, demi menutup biaya produksi akhirnya mereka setuju. Setelah menjalani prosedur tehnis yang ditetapkan grafindo, saya mencoba kooperatif termasuk menunaikan segala kewajiban saya sebagai penulis dengan pihak grafindo, dalam bentuk presentasi konsep naskah, presentasi konten buku, prersentasi dummy cetak, termasuk memberikan softcopy naskah asli dan konten yang siap cetak ke manajer editor dan team editornya. Bahkan pihak grafindo ikut mengedit kontennya. Mereka mengatakan akan mencetak naskah saya kedalam bentuk buku pada bulan desember 2008. kemudian mereka memberikan kepada saya draft /contoh surat perjanjian penerbitan disertai dengan pasal-pasal antar kedua belah pihak perihal perihal hak dan kewajiban termasuk kompensasi untuk penulis. Setelah melewati fase presentasi berkali-kali yang cukup menyita waktu dan tenaga, selesailah sudah kewajiban saya sebagai penulis menyerahkan semua konten asli naskah ke pihak grafindo.Mereka menjanjikan, akan memberikan surat perjanjian terbit dan akan membayar karya saya, setelah proses editing selesai Namun anehnya, setelah proses editing selesai, pihak grafindo tidak memberikan kepada saya surat perjanjian terbit yang asli dan mereka janjikan sebelumnya Ketika saya konfirmasi berkali-kali jawabnya, belum ditandatangani atasan yang bersangkutan. orang manajemen keuangan dan operasional. Saya lelah dan jengkel mendapat jawaban yang serupa dengan alasan yang sama hingga berbulan-bulan. Padahal naskah saya sudah disetujui untuk diterbitkan oleh manager editor, bahkan sudah selesai diedit oleh team editor dan layout. Saya tidak habis pikir, kenapa grafindo tidak transparan dan tidak profesioanal dalam menangani hak penulis? Saya merasa dibohongi. Padahal penulis merupakan asset mereka dalam dunia bisnis penerbitan.. selalu tidak jelas dan tidak jelas! Saya merasa sangat kecewa sekali terhadap grafindo karena saya sudah menolak tawaran penerbit lain, demi grafindo! Ditambah lagi dengan ketidakjelasan kompensasi pembayaran beli putus karya yang merupakan hak penulis, mereka abaikan seenaknya! Akhirnya naskah karya saya tarik meskipun saya menderita kerugian secara moril dan materil. Terlebih saya harus membayar team yang telah membantu saya dalam pengerjaan buku tersebut.
Saya harap semoga grafindo introspeksi diri dan jangan arogan. Penulis punya hak, karena penulis juga manusia! Butuh makan dan minum untuk membuat karya. Untuk itu janganlah sewenang-wenang terhadap penulis!
Jangan bikin malu dunia penerbitan….
Ary Vrhaz
Penulis & illustrator koran seputar indonesia ( SINDO )
rockerpemalu@yahoo.com
8 Januari 09 pada 10:55 am
Mas Arrryyy Vrhaz si Roker pemalu tolong dijawab ya
Kenapa posting coment-nya sampe dua kali?
Apakah anda sangat kecewa, kesal, dan marah dengan penerbit tersebut?
Aku cuma bisa ambil hikmah dari kejadian yang menimpa Mas Ary…..
Hati-hati………waspada dengan janji-janji palsu penerbit………..
semangat….. terus berjuang dan berkarya mencari keadilan:)
8 Januari 09 pada 11:00 am
Ada ya penerbit kayak gitu di negara kita…………..?????!!!!!!
saya akan bookmark nama penerbitnya:p
9 Januari 09 pada 7:49 am
Tapi g smuanya begitu koq …
Kebetulan saya juga penerjemah freelance di Salamadani, anaknya Grafindo gitu, tapi alhamdulillah lancar2 aja aliran dananya … coba aja di kroscek secara baik2 dl, biar g suudzhon … ^^
11 Januari 09 pada 8:47 am
Mas Adityahadi, salamadani dan grafindo itu meskipun dia satu group, manajemen beda gak seh?
Satu group bisa aja kan manajemennya beda. Bisa aja antara 2 penerbit, meskipun satu group, manajemennya beda. Dan, bisa aja di tempat Mas Adityahadi manajemennya baik dan di tempat Mas Ary Vhraz manajemennya kurang baik? Adik-kakak yang bersaudara kandung saja mempunyai sifat dan prilaku yang berbeda, bisa aja adiknya baik, kakaknya kurang baik, atau sebaliknya. iya, kan?
Hal itu mah, menurut saya biasa terjadi. Mungkin, apa yang dirasakan Mas Adityahadi dengan kelancaran aliran dananya itu benar dan mungkin juga benar keluhan di tempat Mas Ary Vraz tentang aliran dananya kurang lancar?
Aku juga pernah mengalami hal itu kok di tempat kerjaku, tapi bukan di dunia penerbit.
Semoga Mas Ary Vhraz mendapatkan kemudahan seperti Mas Adityahadi.
6 April 09 pada 10:38 pm
Mas mas sekalian…
saya bukannya mau sok tahu…
tapi mau ikut menjelaskan…
salam madani dan grafindo itu sebetulnya berada di bawah manajemen yang berbeda. Yang sama itu hanya pemilik modalnya saja….
Grafindo sendiri dibagi dua… yaitu Grafindo Bandung dan Grafindo Jakarta…
sebetulnya, redaksi Grafindo awalnya hanya ada di bandung. Kemudian, pada 2008 dibentuk redaksi Grafindo Jakarta (menempati kantor direksi dan marketing yang sudah ada sebelumnya). Tadinya, team nontextbook di Bandung akan dipindahkan ke sana, namun sebagian besar mereka menolak dan resign.
Jadi sampai saya pergi meninggalkan Grafindo, Grafindo yaitu Grafindo jakarta yang fokus pada penerbitan buku umum, dan di Bandung yang masih wara-wiri dengan produk2 pendidikan.
Nah, kalau Salamadani beda lagi… gitu…
Tapi sekarang salamadani telah menempati gedung yang dulu dijadikan gedung kebanggaan Grafindo.
2 Oktober 09 pada 10:30 pm
Mas.. Mas… Sekalian.
Saya juga pernah mengalami “dibegitukan” spt Mas Ary. Wktu itu sy dijanjikan oleh Bpk Junjunan. Yah, gitu deh.
Salam Madani? Sama aja kali, ya…